SUMATERA BARAT — Sucker Punch melepas sekitar 26 karyawan di tengah penurunan momentum penjualan Ghost of Yotei, yang baru menembus 5,4 juta unit pada tahun pertama. Angka itu tertinggal dari Ghost of Tsushima yang mencetak 7 juta unit di periode yang sama. Pemangkasan ini menambah panjang daftar efisiensi studio game sepanjang 2026.
Sucker Punch Productions mengonfirmasi pemangkasan tenaga kerja melalui email internal pimpinan studio yang beredar di publik. Dalam pesan itu, manajemen menyebut keputusan tersebut sebagai hari yang berat bagi perusahaan dan berjanji mendampingi para staf yang terdampak. Rincian departemen yang terkena pemangkasan belum diungkap.
Laporan portal Aftermath, yang mengutip seorang mantan karyawan, menyebut jumlah pekerja yang dilepas mencapai sekitar 26 orang. Sucker Punch dijadwalkan memberikan penjelasan rinci soal arah kebijakan perusahaan kepada para mantan staf pada pekan depan.
Ghost of Yotei sebenarnya membuka debut dengan catatan impresif: 3,3 juta kopi terjual dalam 32 hari pertama. Capaian itu melampaui performa awal Ghost of Tsushima, pendahulunya yang dirilis untuk PlayStation 4.
Namun laju penjualan melambat setelah periode tersebut. Data Alinea Analytics menempatkan Ghost of Yotei di angka 5,4 juta unit pada tahun pertamanya, sementara Ghost of Tsushima menembus 7 juta unit dalam rentang waktu serupa. Selisih sekitar 1,6 juta unit itu menjadi sinyal bahwa waralaba anyar ini belum mampu menandingi kekuatan pasar pendahulunya.
Perbandingan tersebut penting karena Ghost of Tsushima dirilis saat basis pengguna PlayStation 4 sudah matang, sedangkan Ghost of Yotei hadir di siklus PlayStation 5 yang belum sepenuhnya menggantikan generasi sebelumnya. Faktor ukuran pasar ini kerap memengaruhi capaian absolut sebuah judul eksklusif.
Pemangkasan di Sucker Punch bukan kasus tunggal. Sepanjang 2026, industri game global terus melakukan efisiensi besar-besaran, dengan Microsoft menjadi salah satu aktor paling aktif. Raksasa perangkat lunak itu beberapa kali memangkas studio internalnya, termasuk mengalihkan Halo Studios menjadi tim pendukung setelah waralaba Halo dipindahkan ke Activision.
Electronic Arts (EA) mengambil langkah lebih radikal dengan menutup BioWare dan membatalkan proyek Mass Effect Universe yang tengah digarap. Penutupan studio legendaris itu memicu sorotan publik karena BioWare selama ini dikenal lewat waralaba Dragon Age dan Mass Effect.
Pola yang sama terlihat di banyak pengembang lain: biaya produksi game AAA yang membengkak, siklus pengembangan yang makin panjang, dan tekanan untuk mencetak pendapatan cepat membuat studio lebih cepat memangkas jumlah karyawan begitu satu judul gagal memenuhi target internal.
Bagi pemain, pemangkasan tim biasanya berimbas pada melambatnya dukungan pascaperilisan, mulai dari pembaruan konten hingga patch perbaikan. Sucker Punch belum menyebut apakah rencana ekspansi Ghost of Yotei, termasuk kemungkinan konten tambahan atau sekuel, ikut terdampak.
Dari sisi pasar, gelombang PHK di studio-studio eksklusif Sony menjadi ujian bagi strategi perusahaan mempertahankan judul single-player berkualitas tinggi. Sony memang tidak merilis angka resmi penjualan Ghost of Yotei, sehingga data pihak ketiga seperti Alinea Analytics menjadi rujukan utama analis dalam menilai performa komersial judul tersebut.
Keputusan Sucker Punch mencerminkan tekanan yang kini dihadapi studio menengah: ekspektasi penjualan tinggi, biaya produksi mahal, dan ruang kesalahan yang makin sempit. Tanpa momentum penjualan yang kuat, efisiensi karyawan menjadi pilihan pertama yang diambil manajemen, meski risikonya menggerus kapasitas pengembangan jangka panjang.