SIMPANG EMPAT — Tumpukan sampah di sejumlah kecamatan di Pasaman Barat selama ini hanya terangkut separuhnya. Dari 70 hingga 80 ton sampah yang diproduksi warga setiap hari di Simpang Empat, Simpang Tigo, Luhak Nan Duo, dan sekitarnya, armada lama hanya mampu membawa 50 ton ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muaro Kiawai. Kini, pemkab memutuskan menambah 21 unit armada baru agar tak ada lagi sampah yang tertinggal di pinggir jalan.
Tiga Truk dan Sembilan Kontainer untuk Tiga Kecamatan Padat
Pelaksana tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pasaman Barat, Afkar, mengungkapkan bahwa saat ini proses pengadaan sedang berjalan. Armada baru yang akan dikirim meliputi tiga unit truk, sembilan unit becak motor, dan sembilan unit kontainer. "Kita masih kekurangan armada pengangkut sampah. Saat ini hanya dua truk, tujuh becak, dan dua unit pick up," ujar Afkar di Simpang Empat, Rabu.
Dengan tambahan ini, total armada pengangkut akan berlipat ganda. Pemerintah juga telah menyediakan satu tempat pembuangan sementara (TPS) baru di Simpang Tigo dan berencana menambah satu lagi di Simpang Empat. Tong sampah juga mulai ditempatkan di dekat kawasan perkantoran untuk mengurangi sampah berserakan.
Retribusi Sampah Naik ke Rp50 Ribu per Bulan Mulai Januari 2026
Untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor kebersihan, pemkab memberlakukan tarif retribusi baru. Sampah rumah tangga dikenakan biaya Rp20 ribu per bulan, sedangkan sampah dari toko Rp50 ribu per bulan. Pada 2025, pendapatan dari retribusi sampah mencapai Rp217 juta.
Mulai Januari 2026, pembayaran tidak lagi dilakukan secara tunai kepada petugas. "Masyarakat langsung membayar ke rekening daerah. Ke depannya akan dilakukan dengan sistem aplikasi sehingga tidak ada pemungutan langsung di masyarakat," jelas Afkar. Sistem ini diharapkan meminimalkan kebocoran dan mempercepat realisasi PAD.
Gerakan Memilah Sampah: Organik vs Anorganik
Afkar menambahkan, penambahan armada tidak akan efektif tanpa partisipasi warga. Pihaknya akan meningkatkan sosialisasi gerakan memilah sampah dari rumah. "Masyarakat diminta memisahkan sampah organik (terurai) dan anorganik sehingga yang dibawa ke TPA hanya sampah anorganik saja," katanya.
Langkah ini sejalan dengan program nasional pengelolaan sampah. Dengan pemilahan sejak sumber, beban TPA Muaro Kiawai bisa berkurang drastis. Pemkab juga mengimbau warga tidak membuang sampah sembarangan yang berpotensi merusak lingkungan dan menyebabkan banjir di musim hujan.