Pencarian

Trump Usulkan Tiga Nama Baru Pengganti Istilah Artificial Intelligence

Senin, 21 September 2026 • 16:33:31 WIB
Trump Usulkan Tiga Nama Baru Pengganti Istilah Artificial Intelligence
Presiden AS Donald Trump mengusulkan tiga nama alternatif pengganti istilah Artificial Intelligence melalui akun X pribadinya.

SUMATERA BARAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan penggantian istilah Artificial Intelligence (AI) dengan tiga nama alternatif melalui cuitan di akun X pribadinya. Usulan ini kemudian ia bawa ke platform Truth Social lengkap dengan polling terbuka yang mengeliminasi satu dari tiga opsi. Langkah tersebut menandai keterlibatan langsung kepala negara dalam perdebatan terminologi teknologi yang selama ini didominasi kalangan akademisi dan pelaku industri.

Tiga Nama yang Diusulkan Trump

Trump menawarkan Superior Intelligence (SI), Extreme Intelligence (EI), dan Supreme Intelligence (SI) sebagai pengganti istilah Artificial Intelligence. Menurutnya, istilah lama dianggap kurang akurat dan terdengar kaku.

"Banyak orang merasa istilah 'Artificial Intelligence' itu kurang akurat dan terdengar kaku. Sebutan yang jauh lebih elegan dan pas untuk fenomena baru ini adalah Superior Intelligence (SI), Extreme Intelligence (EI), Supreme Intelligence (SI)," tulis Trump di akun X pribadinya pada Sabtu (19/8).

Cuitan yang sama turut diunggah ke Truth Social, platform media sosial besutannya sendiri.

Polling dan Nama yang Tereliminasi

Trump membuka polling di Truth Social untuk memberi publik kesempatan memilih nama terbaik. Dari tiga opsi awal, ia mengeliminasi Supreme Intelligence dan menyisakan dua pilihan: Superior Intelligence dan Extreme Intelligence.

Hasil pantauan CNNIndonesia pada Senin (21/9) siang menunjukkan Extreme Intelligence memimpin dengan 50,2 persen suara. Trump mendorong partisipasi publik lewat pesan singkatnya.

"Ini adalah survei, dan saya akan sangat menghargai jika semua orang ikut memberikan suara! Manakah nama terbaik untuk 'Revolusi' yang terus berkembang ini?" imbuhnya.

Konteks Kebijakan dan Sikap Trump terhadap AI

Mengutip Mashable, polling ini dibuat tak lama setelah Trump menyebut ketakutan masyarakat soal AI sebagai "hoaks" di media sosial pekan lalu. Ia juga menegaskan tidak akan menghambat perkembangan teknologi tersebut. Sikap itu sejalan dengan antusiasme pemerintahannya dalam mengadopsi AI.

Laporan New York Times menyebut Trump berencana bertemu para bos perusahaan AI pekan ini. Namun, perwakilan Gedung Putih mengklarifikasi bahwa belum ada jadwal pasti untuk pertemuan itu di kalender mereka pada Kamis (17/9).

Desakan Perlambatan dari Kalangan Industri

CEO Anthropic Dario Amodei dan CEO OpenAI Sam Altman baru-baru ini justru sepakat bahwa pengembangan AI sebaiknya diperlambat. Keputusan ini menyusul mundurnya seorang peneliti Anthropic yang memberi peringatan bahwa AI bisa "membunuh manusia" pada akhir dekade ini.

Anggota parlemen lain di AS juga tengah berupaya membuat regulasi terkait AI. Pada Jumat (18/9), Gubernur California Gavin Newsom mengeluarkan perintah eksekutif untuk membentuk tim khusus guna memperketat aturan keselamatan AI di negara bagian tersebut.

Seorang analis militer AS dikabarkan membuat laporan palsu menggunakan AI pada pekan lalu. Peristiwa ini disebut hampir memicu perang antara AS dengan China.

Pertarungan istilah yang dimulai Trump berlangsung di tengah gelombang regulasi dan kekhawatiran etika yang semakin ketat. Bagi pelaku industri AI global, termasuk startup di Asia Tenggara yang memakai istilah ini dalam dokumen investasi dan produk mereka, perubahan narasi dari level kepala negara bisa memengaruhi cara regulator dan investor membingkai teknologi ini ke depan.

Follow inisumbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks