Pencarian

KAI Sumut Kelola 6 Bangunan Cagar Budaya, Stasiun Binjai Berstatus Nasional

Sabtu, 26 September 2026 • 16:33:37 WIB
KAI Sumut Kelola 6 Bangunan Cagar Budaya, Stasiun Binjai Berstatus Nasional
Stasiun Binjai ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.01/PW.007/MKP/2010.

SUMATERA BARAT — PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatera Utara mengelola enam bangunan cagar budaya berusia lebih dari satu abad di wilayah kerjanya, mencakup satu gedung kantor dan lima stasiun. Stasiun Binjai menjadi satu-satunya yang berstatus cagar budaya peringkat nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.01/PW.007/MKP/2010. Lima bangunan lain tersebar di Kota Medan dan ditetapkan lewat Surat Keputusan Wali Kota Medan.

Enam bangunan warisan perkeretaapian di Sumatera Utara itu bukan sekadar struktur tua yang dibiarkan berdiri. Sebagian besar masih difungsikan setiap hari, mulai dari melayani perjalanan penumpang hingga menjadi ruang kerja operasional kantor.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menyebut bangunan-bangunan tersebut sebagai bagian dari perjalanan panjang kereta api di wilayah itu. Pelestariannya, kata dia, dilakukan dengan tetap memperhatikan nilai sejarah dan budaya yang melekat.

Dari Deli Spoorweg Maatschappij hingga Kini

Jejak perkeretaapian Sumatera Utara terbentang sejak 1880-an, ketika jaringan rel dikembangkan di bawah perusahaan kolonial Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Bangunan-bangunan yang berdiri pada masa itu kini menjadi saksi bagaimana transportasi kereta membentuk mobilitas warga di Medan dan sekitarnya.

Data Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI mencatat enam aset di wilayah kerja Divre I Sumut telah resmi ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Satu di antaranya berperingkat nasional, lima lainnya berperingkat kota.

Stasiun Binjai, Satu-satunya Berstatus Nasional

Stasiun Binjai menempati posisi istimewa. Bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.01/PW.007/MKP/2010.

Penetapan itu didasarkan pada nilai sejarah, sosial, edukasi, ilmiah, kelangkaan, dan keaslian yang dimilikinya. Hingga sekarang, Stasiun Binjai masih berfungsi sebagai pusat mobilitas rute Medan-Binjai.

Lima Bangunan di Kota Medan

Lima aset lainnya berada di Kota Medan dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Wali Kota Medan. Kelimanya adalah Kantor Divre I Sumatera Utara, Stasiun Medan, Stasiun Pulubrayan, Stasiun Labuhan, dan Stasiun Belawan.

Rata-rata usia bangunan itu telah melewati satu abad. Meski begitu, perawatan berkelanjutan membuat aset heritage tersebut tetap berfungsi optimal, baik sebagai sarana pelayanan pelanggan maupun operasional kantor.

Bagaimana Perawatan Bangunan Cagar Budaya Dilakukan

KAI Divre I Sumut tidak bergerak sendiri dalam merawat aset-aset ini. Mereka berkoordinasi dengan dinas kebudayaan pemerintah daerah, tim ahli cagar budaya, hingga Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK).

Koordinasi itu mencakup penyusunan kajian teknis pemugaran, kajian cagar budaya, serta rekomendasi atau izin renovasi bangunan cagar budaya. Prinsipnya, pengelolaan harus tetap menjaga nilai penting dan karakter sejarahnya.

"Ketika diperlukan adaptasi untuk kebutuhan pelayanan, kami berkoordinasi dengan pihak yang berwenang dan kompeten," ujar Anwar.

Potensi Wisata Heritage di Jalur Kereta Sumut

Bangunan cagar budaya menyimpan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda. Arsitektur kolonial, tata ruang lama, dan nilai sejarah yang melekat membuat stasiun serta kantor tua berpotensi menjadi destinasi wisata heritage.

Wisatawan yang melintas di rute Medan-Binjai atau menuju Belawan bisa merasakan langsung pengalaman berada di ruang pelayanan bernilai sejarah. KAI menyebut bangunan-bangunan itu diharapkan tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi tetap hidup dan memberi manfaat.

"Pelanggan dapat merasakan langsung pengalaman berada di ruang pelayanan yang bernilai sejarah sekaligus memenuhi kebutuhan perjalanan masa kini," tutup Anwar.

Bagi traveler yang tertarik menelusuri jejak perkeretaapian kolonial di Sumatera Utara, enam bangunan ini bisa menjadi titik awal penjelajahan. Informasi terkini soal akses dan jam kunjungan dapat dikonfirmasi ke KAI Divre I Sumatera Utara atau dinas pariwisata setempat.

Follow inisumbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks