SUMATERA BARAT — Danantara memastikan arah investasi ke sektor bioetanol untuk menopang ketahanan energi nasional, termasuk opsi membangun pabrik pengolahan sendiri. Langkah ini menyusul keberhasilan program biodiesel B50 yang disebut mampu menghentikan impor sebagian jenis solar. Pemerintah menyiapkan lahan hingga dua juta hektare untuk menopang produksi bioetanol dalam negeri.
Paragraf pembuka: Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa peran Danantara dalam ketahanan energi tidak berhenti pada biodiesel. Melalui investasi yang dilakukan, termasuk lewat BUMN, Danantara kini mengarahkan perhatian ke bioetanol sebagai campuran bensin. Ambisi pemerintah mengejar campuran etanol hingga 50 persen (E50), meski dimulai secara bertahap dari E20 dalam waktu dekat.
Berkaca dari Keberhasilan B50
Kehadiran biodiesel B50 disebut menjadi bukti bahwa kebijakan campuran bahan bakar nabati bisa mengurangi ketergantungan impor. Dony menyebut program itu mampu menghentikan impor sebagian jenis solar, termasuk CN48. Keberhasilan tersebut menjadi dasar untuk melirik bioetanol sebagai campuran bensin.
"Nah, untuk bensin ini kan beberapa negara sudah menerapkannya, bahkan ada yang sudah E50. Kita juga, dalam rangka menjadikan negara berswasembada energi, mulai memikirkan langkah awal dari E20 terlebih dahulu," tutur Dony.
Menurutnya, bahan baku etanol terutama berasal dari molase atau tebu. Pemerintah akan menggencarkan proses penanaman tebu sebagai bagian dari transisi energi nasional.
Ikut Bangun Pabrik hingga Hilir
Dony mengamini adanya rencana Danantara untuk terlibat langsung dalam pembangunan pabrik pengolahan bioetanol. Langkah itu dilakukan guna menghadirkan ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari penanaman hingga pabrik etanol.
"Ya, termasuk pembangunan pabrik. Mulai dari menanam hingga membangun pabrik etanol. Kami berharap pemerintah dapat menyelesaikan seluruh investasi etanol dalam kurun tiga tahun ke depan," jelas dia.
Pemerintah sendiri berencana menyiapkan lahan hingga dua juta hektare untuk menopang produksi bioetanol di dalam negeri. Hasil produksinya akan digunakan sebagai bahan campuran bensin menuju target E20 hingga E50.
Dampak ke Petani Tebu dan Pasar Energi
Rencana ini membuka peluang bagi petani tebu dan produsen molase di dalam negeri. Permintaan bahan baku etanol diproyeksikan naik seiring berjalannya program campuran bensin secara bertahap. Bagi pasar energi, langkah ini menjadi sinyal pengurangan impor bensin di masa depan.
Danantara memegang peran penting pada aspek investasi, termasuk melalui BUMN. Arah investasi ke bioetanol disebut sebagai salah satu upaya mewujudkan ketahanan energi nasional.
Penutup: Jika terealisasi, pembangunan pabrik bioetanol menandai pergeseran dari sekadar campuran solar ke campuran bensin. Keberhasilan E20 menjadi ujian awal sebelum mengejar target E50 yang lebih ambisius.