PADANG PARIAMAN — Penyerahan karya sulaman kepada Wakil Kepala Perwakilan KBRI Den Haag, Mariska Dwianti Dhanutirto, pada Selasa (06/10/2026) menjadi titik masuk kerajinan tradisional Minangkabau itu ke ruang promosi Eropa. Diplomasi budaya lewat pameran di Den Haag membuka jalan bagi perajin Pasia Baru untuk dilihat bukan sekadar sebagai objek pameran, melainkan komoditas tekstil yang punya nilai jual.
Peran Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman menjadi kunci penyambung antara perajin lokal dan jejaring pasar yang lebih luas. Ketua Dekranasda Padang Pariaman, Ny. Nita Christanti Azis, memegang posisi strategis dalam menjembatani kedua pihak.
Dari Juara KriyaNusa ke Kontrak USD 22.000 di TEI 2026
Rekam jejak Sulaman Kapalo Samek di dalam negeri lebih dulu terbentuk. Kerajinan ini keluar sebagai Juara I Kategori Tekstil pada ajang KriyaNusa 2026 di Jakarta, capaian yang mengangkat namanya di antara produk kriya nasional.
Momentum itu berlanjut ke Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Lewat business matching dengan PT Miumosa Artha Mandiri, sulaman Kapalo Samek mengunci kesepakatan kontrak produksi senilai USD 22.000 atau sekitar Rp400 juta.
Kerja sama tersebut membuka peluang pengembangan sulaman tradisional ke produk fesyen kontemporer dan premium di bawah merek Miumosa. Artinya, ada jalur hilirisasi yang lebih panjang ketimbang menjual kerajinan apa adanya.
Pekerjaan Rumah: Ekosistem Perajin di Pasia Baru
Pencapaian di kancah global dinilai harus diiringi komitmen menyejahterakan perajin lokal di Pasia Baru. Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan diharapkan memperkuat ekosistem usaha, mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga penguatan koperasi.
Dua hal lain yang menuntut perhatian adalah perlindungan desain dan kepastian pembagian manfaat ekonomi yang adil. Keduanya menentukan apakah nilai kontrak Rp400 juta benar-benar mengalir ke perempuan penjaga tradisi sulaman di nagari tersebut.
Tanpa penguatan di sisi produksi dan kelembagaan, order ekspor berpotensi jadi beban baru bagi perajin. Kapasitas pasokan yang tidak siap menghadapi permintaan fesyen premium bisa membuat peluang pasar Eropa itu berhenti di tahap pameran.