AGAM – Nadi ekonomi di kawasan Malalak, Kabupaten Agam, mulai berdenyut kembali seiring terhubungnya titik-titik jalan yang sebelumnya terputus akibat banjir bandang dan longsor November 2025 lalu. Namun, pengendara perlu mencatat bahwa akses jalan alternatif Padang–Malalak–Bukittinggi ini belum dibuka sepenuhnya untuk umum.
Hingga saat ini, jalur tersebut baru bisa diakses secara terbatas oleh masyarakat lokal dengan pengawasan ketat dan pembatasan jam operasional.
Pihak pelaksana lapangan HKI (Hutama Karya Infrastruktur) menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama karena pengerjaan fisik masih berlangsung di beberapa titik rawan.
| Kategori | Ketentuan Akses |
|---|---|
| Jenis Kendaraan | Khusus Roda Dua (Motor) |
| Status Pengguna | Masyarakat Lokal (Malalak – Balingka) |
| Kondisi Jalan | Balingka ke Malalak lancar; Malalak ke Balingka masih rawan (tanjakan signifikan) |
Bagi masyarakat lokal yang ingin melintas, harap memperhatikan jam operasional berikut agar tidak terjebak di lokasi pengerjaan:
Sesi Siang: Pukul 12.00 WIB – 13.00 WIB (Jam Istirahat Kerja)
Sesi Sore/Malam: Pukul 17.00 WIB hingga 08.00 WIB (Pagi hari berikutnya)
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menyiapkan suntikan dana fantastis senilai Rp667 miliar untuk mengembalikan fungsi vital Jalur Malalak sebagai penghubung antar kabupaten/kota di Sumatera Barat.
Tahun 2026: Dialokasikan sebesar Rp370 miliar untuk percepatan pengerjaan utama.
Tahun 2027: Sisa anggaran disiapkan untuk penyelesaian akhir dan penguatan tebing.
Pelaksana Lapangan HKI, Subiantoro, mengingatkan pengendara untuk tetap ekstra hati-hati, terutama saat hujan turun, mengingat kondisi tanah di lereng bukit Malalak yang masih labil pasca-bencana.
Meskipun akses masih terbatas, terhubungnya jalan ini memberikan dampak instan pada sektor komoditas. Penjualan kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) dari Nagari Malalak Timur yang sempat lumpuh total kini mulai berangsur pulih. Komoditas unggulan Sumbar ini kembali bisa dipasarkan ke pasar Asia hingga Eropa seiring dibukanya akses logistik terbatas bagi pengumpul lokal.