Padang Panjang Buktikan Kota Kecil Mampu Raih Peringkat 2 Nasional Literasi

Penulis: Rian Murdani  •  Kamis, 26 Februari 2026 | 21:14:04 WIB
Kota Padang Panjang raih peringkat dua nasional dalam Indeks Kegemaran Membaca tahun 2026.

PADANG PANJANG – Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Berdasarkan rilis terbaru dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia, kota yang dijuluki Kota Serambi Mekkah ini berhasil menduduki peringkat kedua nasional dalam Indeks Kegemaran Membaca dari total 512 daerah di Indonesia.

Capaian ini menunjukkan lonjakan performa yang signifikan, di mana Padang Panjang berhasil naik empat peringkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di posisi keenam. Dengan perolehan nilai 70,99, Padang Panjang hanya terpaut dari Kota Surabaya yang menempati posisi puncak dengan nilai 79,42.

Selain indeks kegemaran membaca, prestasi literasi daerah ini juga tercermin dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang mencatatkan angka 30,74, tertinggi untuk wilayah Sumatera Barat.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang, Januardi, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh elemen masyarakat, mulai dari guru, pustakawan, hingga komunitas literasi yang konsisten menghidupkan semangat membaca.

“Capaian ini bukan hanya prestasi pemerintah, tetapi buah dari kebiasaan membaca yang terus tumbuh di sekolah, keluarga, dan ruang-ruang publik,” ujar Januardi, Rabu (25/2/2026).

Januardi menjelaskan bahwa ekosistem literasi di Padang Panjang telah menjadi budaya yang mengakar. Di sekolah-sekolah, Pojok Baca telah bertransformasi menjadi ruang favorit siswa. Di tingkat kewilayahan, perpustakaan kelurahan kembali aktif melayani warga, sementara perpustakaan daerah terus dipadati mahasiswa, peneliti, hingga anak-anak yang antusias mengikuti kegiatan mendongeng.

Ke depan, Pemerintah Kota Padang Panjang berkomitmen untuk tidak sekadar mempertahankan angka, tetapi juga memperluas jangkauan melalui penguatan literasi digital dan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan luas wilayah bukan penghalang bagi sebuah kota untuk mencetak prestasi nasional, asalkan budaya membaca sederhana setiap hari terus dijaga dan didukung secara kolektif.

Reporter: Rian Murdani
Back to top