SUMATERA BARAT — Badung, Bali — Industri jasa pertambangan nasional tengah menghadapi tekanan dari tiga sisi sekaligus: kebijakan domestik yang belum stabil, gejolak harga komoditas, dan konflik global. Hal ini mendorong para pemain di sektor ini untuk mengerem langkah bisnis mereka.
Ketidakpastian pasar dan regulasi membuat perusahaan jasa pertambangan kini lebih selektif. Joko Triraharjo menyebut dinamika persetujuan RKAB minerba menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku usaha ragu untuk berinvestasi atau memperluas usaha. "Dinamika RKAB minerba, fluktuasi harga komoditas, dan konflik global saat ini menjadi tantangan besar," ujarnya dalam Temu Tahunan Jasa Pertambangan (TTJP) 2026 di Badung, Jumat (21/5).
Dampaknya langsung terasa pada keputusan ekspansi dan perekrutan. Perusahaan lebih memilih wait and see ketimbang mengambil risiko di tengah situasi yang belum jelas.
Selain soal RKAB, Joko menyoroti kebijakan mandatori biodiesel B50 yang berpotensi menaikkan biaya operasional. Di saat yang sama, aturan baru terkait badan ekspor sumber daya alam (SDA) turut mempengaruhi iklim usaha. "Kebijakan fiskal terkait penyesuaian tarif pajak dan royalti, implementasi mandatory biodiesel, dan kebijakan baru terkait tata niaga ekspor menjadi tantangan lainnya," imbuhnya.
Joko menilai tekanan ini justru menjadi momentum bagi industri untuk mempercepat transformasi. Digitalisasi operasional, peningkatan produktivitas, dan penguatan budaya keselamatan kerja menjadi prioritas. "Ketahanan bisnis ke depan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga kemampuan perusahaan untuk berinovasi dan cepat beradaptasi," jelasnya.
Menurut Joko, sinergi antara pemerintah, perusahaan tambang, kontraktor, dan penyedia teknologi menjadi faktor krusial. Tanpa kolaborasi yang solid, ekosistem pertambangan nasional sulit menjadi produktif dan adaptif. "Kolaborasi menjadi kunci dalam membangun ekosistem pertambangan yang produktif, adaptif, dan resilient," katanya.
TTJP 2026 mengusung tema Accelerating the Mining Ecosystem: Market Trends, Operational Readiness, and Growth Pathways. Acara tahunan ini digelar oleh ASPINDO bekerja sama dengan Majalah TAMBANG pada 22–23 Mei 2026 di Badung, Bali.