Proses Menjemur Daun Kopi di Sumatera Barat Jadi Kawa Daun, Disangrai Sebelum Diseduh

Penulis: Binsar Gultom  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:14:57 WIB
Daun kopi dijemur di bawah sinar matahari untuk menghasilkan kawa daun berkualitas di Sumatera Barat.

SUMATERA BARAT — Setelah melalui proses pemotongan sesuai ukuran, daun kopi kini memasuki tahap penjemuran di sejumlah sentra produksi kawa daun di Sumatera Barat. Daun yang telah kering nantinya akan disangrai sebelum akhirnya diseduh menjadi minuman khas yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.

Proses penjemuran ini menjadi penentu utama kualitas cita rasa kawa daun. Daun kopi yang dijemur hingga kadar airnya benar-benar hilang akan menghasilkan aroma yang lebih pekat saat disangrai.

Mengapa Penjemuran Daun Kopi Menentukan Kualitas Rasa?

Penjemuran yang sempurna memastikan daun kopi tidak mudah berjamur dan siap melewati tahap sangrai. Daun yang masih mengandung air akan sulit diolah dan menghasilkan rasa yang pahit tidak seimbang saat diseduh.

Proses ini umumnya memakan waktu beberapa hari tergantung cuaca. Para pengrajin biasanya menjemur daun kopi di atas tikar atau anyaman bambu di tempat yang terkena sinar matahari langsung.

Dari Daun Kering Hingga Cangkir Kawa Daun

Setelah kering sempurna, daun kopi kemudian disangrai di atas wajan tanpa minyak. Proses sangrai inilah yang memunculkan aroma khas yang membedakan kawa daun dengan kopi biji pada umumnya.

Kawa daun merupakan minuman tradisional yang populer di Sumatera Barat, khususnya di daerah pedesaan. Berbeda dengan kopi yang menggunakan biji, kawa daun memanfaatkan helaian daun kopi pilihan sebagai bahan utama seduhan.

Minuman ini kerap disajikan sebagai teman bersantai atau hidangan saat acara adat. Harganya yang relatif terjangkau membuat kawa daun tetap diminati dari generasi ke generasi.

Proses produksi yang masih dilakukan secara tradisional ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat. Beberapa pengrajin mulai membuka lokasi produksi mereka sebagai destinasi wisata edukasi.

Reporter: Binsar Gultom
Sumber: 20.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top