Hasil Tes Kemampuan Akademik 2026 Ungkap Literasi dan Numerasi Siswa Masih Rendah, Waka MPR Desak Intervensi Berbasis Data

Penulis: Bastian Sihombing  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:19:01 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menekankan pentingnya intervensi berbasis data dari hasil Tes Kemampuan Akademik 2026.

SUMATERA BARAT — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) mendesak agar hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang diikuti lebih dari 8,7 juta murid SD dan SMP se-Indonesia tidak berakhir sebagai tumpukan data. Ia menekankan, angka partisipasi yang mencapai 98,51 persen secara nasional harus berbanding lurus dengan aksi perbaikan di lapangan.

"Data rinci hingga tingkat sekolah dan kompetensi individu sudah di tangan. Pertanyaannya sekarang, apakah kita semua—pemerintah pusat, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, hingga orang tua—benar-benar siap mengubah pola pengajaran dan pendampingan?" kata Rerie dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/5/2026).

Skor Numerasi Jauh di Bawah Literasi

Catatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan disparitas tajam antara dua kompetensi dasar. Rata-rata literasi nasional berada di angka 60 untuk SD dan 60,83 untuk SMP. Sebaliknya, skor numerasi hanya 43,41 di tingkat SD dan 40,34 di tingkat SMP.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, pada Selasa (26/5) memastikan data ini akan menjadi pijakan kebijakan berbasis bukti. Namun, Rerie mengingatkan agar hasil asesmen tidak digunakan untuk mempermalukan sekolah atau daerah tertentu.

Intervensi Harus Spesifik, Bukan Seragam

Menurut Rerie, temuan TKA justru membuka peluang untuk mendesain intervensi yang presisi. Ia mencontohkan, jika di suatu kabupaten numerasi siswa anjlok sementara literasi baik, maka bimbingan teknis guru, distribusi alat peraga, dan metode pembelajaran harus segera disesuaikan.

"Tidak boleh ada kebijakan yang seragam untuk masalah yang berbeda-beda," ujar Rerie.

Ia juga memperingatkan agar pemerintah pusat dan daerah mengalokasikan anggaran tidak hanya untuk penyelenggaraan tes, tetapi untuk program remedial berbasis data. "Jangan sampai biaya besar untuk pemetaan, tapi tindak lanjutnya minim," tegasnya.

Guru Didorong Ubah Pendekatan, Orang Tua Jangan Fobia Peringkat

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menyoroti perlunya transformasi di level satuan pendidikan. Guru, kata Rerie, wajib mengubah pendekatan dari sekadar mengejar nilai menjadi membangun kompetensi dan nalar kritis siswa.

"Evaluasi bagi para guru, harus didorong untuk menumbuhkan nalar siswa bukan sekadar hafalan, serta menanamkan kejujuran atau integritas," jelas Rerie.

Dari sisi orang tua, ia meminta dukungan untuk proses belajar yang bermakna di rumah, tanpa terpaku pada peringkat. Masyarakat juga diminta mengawal kebijakan agar tidak mandek di atas kertas.

"Sistem pendidikan kita butuh komitmen kolektif yang kuat untuk menjalankan kebijakan berdasarkan bukti, bukan berdasarkan ambisi sesaat. TKA sudah memberi kita peta jalan, sekarang kita semua harus berani melangkah," pungkas Rerie.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top