SUMATERA BARAT — Joshua, bocah lelaki pengidap autisme dan ADHD, berteriak ketakutan di Silverstone. Bukan karena deru mesin jet V6 turbo hybrid para mobil Formula 1, melainkan suara pengering tangan di toilet umum. Momen itu menjadi gambaran betapa rumitnya pengalaman sensoris bagi anak neurodivergen di tengah hiruk-pikuk Grand Prix.
"Dia membeku di tempat, menutup mata, dan meletakkan kedua tangan di telinga. Dia berteriak," kata sang ayah kepada BBC Sport. Namun, begitu kembali ke pinggir sirkuit dan mendengar raungan mesin McLaren pembalap juara dunia Lando Norris, napas Joshua kembali teratur. Suara yang bagi kebanyakan orang bising justru terasa menenangkan baginya.
Silverstone, yang setiap tahunnya kedatangan lebih dari 480.000 penonton selama akhir pekan balapan, menyadari kebutuhan ini. Mereka menyediakan area bernama Copse Triangle—sebuah spot kecil di pinggir trek dengan pemandangan langsung ke lintasan, tetapi terisolasi dari hiruk-pikuk di luar arena.
Area ini hanya bisa diakses melalui Skema Bantuan Pribadi (Personal Assistance Scheme) dan memiliki kapasitas terbatas. "Tidak ada penghakiman di dalam area itu," kata Sue Davidson, champion aksesibilitas tim layanan pelanggan Silverstone. "Banyak pertemanan terjalin di sana."
Menurut National Autistic Society, lebih dari satu dari 100 orang di Inggris mengidap autisme—sekitar 700.000 orang dewasa dan anak-anak. Di Silverstone, permohonan tiket aksesibilitas dari penggemar neurodivergen kini mencapai 20 persen dari total aplikasi.
"Kami hampir menjalani satu dekade perubahan," kata Louise Broomhall, kepala layanan pelanggan Silverstone. "Saat saya pertama kali mulai bekerja di sini, pengetahuan dan dukungan untuk ini sangat kecil. Kini tumbuh dari tahun ke tahun."
Bagi orang tua dengan anak autis, merencanakan hari keluar bukanlah perkara sederhana. "Hidupmu adalah penilaian risiko yang bergulir," tulis sang ayah. Mulai dari persiapan sebelum meninggalkan rumah hingga kecemasan yang bisa meluap berhari-hari setelahnya.
Namun, kecintaan Joshua pada balap motor sudah menjadi obsesi sejak ia bisa memegang mobil-mobilan. Dari sekadar menyusun dan mengatur mainan hingga menciptakan efek pelangi di lantai ruang tamu dengan puluhan koleksinya, kini ia bisa merekreasi balapan yang ia tonton di TV.
Maka, keputusan untuk menghadiri akhir pekan balapan penuh di Silverstone pun diambil. Tim aksesibilitas sirkuit bahkan mengirimkan brosur cetak yang membantu—sebuah langkah kecil yang berarti besar bagi keluarga seperti mereka.