AGAM — Puluhan piala dan piagam penghargaan berjejer di ruang tamu Ummi Habibah. Semua itu adalah bukti perjalanan seorang guru TK yang juga vokalis, pencipta lagu, dan koreografer tari. Perempuan 43 tahun ini memulai kariernya sebagai guru honorer di Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada 2006, sebelum akhirnya mengikuti suami bertugas ke Agam pada 2017.
“Saya tidak pernah menyangka akan sampai di titik ini. Semua berawal dari kecintaan pada anak-anak dan seni,” ujar Ummi saat ditemui di kediamannya, pekan lalu.
Dari Vokalis Qasidah Hingga Juara Nasional
Bakat seni Ummi sudah terlihat sejak tahun pertamanya mengajar. Pada 2006, ia dinobatkan sebagai Vokalis Terbaik Bintang Qasidah tingkat Kabupaten Mandailing Natal. Prestasi itu berlanjut ke tingkat provinsi, hingga akhirnya ia meraih Vokalis Favorit Lomba Bintang Qasidah Tingkat Nasional di Nanggroe Aceh Darussalam.
Tidak berhenti di situ, bersama grup rebana yang dibinanya, Ummi berhasil menyabet Juara I Festival Seni Nasyid tingkat Kabupaten Mandailing Natal pada 2007, 2008, dan 2009. Puncaknya, pada 2009, ia mewakili Sumatera Utara dan meraih Juara II Qasidah Rebana Tingkat Nasional di Batam, Kepulauan Riau.
Adaptasi di Tanah Baru: Agam
Kepindahan ke Sumatera Barat pada 2017 menjadi tantangan tersendiri. Ummi harus meninggalkan jejak prestasi panjangnya di Mandailing Natal dan memulai dari nol. Ia sempat bertugas di BKPSDM Kabupaten Agam sebelum akhirnya kembali ke dunia yang ia cintai: mengajar anak usia dini di TK Islamic Saiyo Gadut.
“Pindah provinsi bukan hal mudah. Saya harus membuktikan diri lagi. Tapi saya percaya, kompetensi tidak akan hilang,” katanya.
Adaptasi itu terbukti berhasil. Pada 2018, dalam satu tahun, Ummi meraih Juara I Lomba Menyanyi Duet Kabupaten Agam, Juara I MTQ Antar OPD Kabupaten Agam, Juara I Lomba Cipta Lagu Anak, dan Juara III Lomba Cipta Tari tingkat kecamatan. Di tingkat provinsi, ia juga meraih Juara III Lomba Menyanyi Duet se-Sumatera Barat.
Metode Mengajar yang Berprestasi
Tak hanya di panggung seni, kompetensi Ummi sebagai pendidik juga diakui. Pada 2019, saat bertugas di TK Islamic Saiyo, ia keluar sebagai Juara I Lomba Peer Teaching atau metode pembelajaran kooperatif antar guru TK se-Kecamatan Tilatang Kamang.
Menurut Ummi, seni dan pendidikan adalah dua hal yang tak terpisahkan. “Anak-anak belajar lebih cepat lewat lagu dan gerak. Saya selalu memasukkan nilai-nilai islami dan karakter dalam setiap tarian atau nyanyian yang saya ajarkan,” jelasnya.
Pengabdian Tanpa Henti
Kini, Ummi Habibah mengabdikan diri di TK Restu Ibu, Tilatang Kamang. Di usianya yang hampir dua dekade berkarier, ia tak menunjukkan tanda-tanda melambat. Ia masih aktif membimbing guru-guru muda dan mengikuti berbagai lomba.
“Selama masih bisa berdiri dan bernyanyi, saya akan terus mengajar. Ini bukan sekadar pekerjaan, ini panggilan,” tutup Ummi.