SUMATERA BARAT — Setelah Apple menghentikan Pro Display XDR dan hanya menyisakan Studio Display 27 inci 5K seharga $1.599 hingga $3.299, pasar monitor retina untuk Mac menyisakan celah ukuran dan resolusi. Meirro, produsen aksesoris asal China, menjawabnya dengan Meirro Pro 6K — monitor 32 inci 6K yang dijual hanya $1.199. Saya sudah menggunakannya sebagai monitor utama selama beberapa pekan, dan hasilnya cukup mengesankan untuk harganya.
Dari luar, Meirro Pro 6K terlihat sangat mirip dengan Apple Studio Display. Seluruh bodi terbuat dari aluminium CNC tanpa plastik sama sekali. Stand yang dapat diatur ketinggiannya (adjustable) sudah termasuk dalam kotak, begitu pula dudukan VESA. Pemasangannya sederhana: pasang kaki ke stand, kaitkan ke monitor, colokkan kabel daya, dan monitor langsung menyala.
Praktis tidak ada satu pun tombol fisik di monitor ini — termasuk tombol power. Semua pengaturan dilakukan via remote yang bentuknya mirip Apple TV remote generasi sebelumnya. Satu hal yang patut diacungi jempol: catu daya (power supply) sudah terintegrasi di dalam monitor, sehingga tidak ada adaptor eksternal yang mengotori meja.
Panel utamanya adalah Nano IPS Black berukuran 32 inci dengan resolusi 6144×3456 piksel, menghasilkan kerapatan 224 PPI — angka yang sama dengan Apple Retina 6K. Spesifikasi lengkapnya:
Dengan kerapatan 224 PPI, macOS dan iPadOS bisa menampilkan skala piksel sempurna tanpa artefak. Saya mengujinya di Final Cut Pro dan aplikasi multitasking — teks dan antarmuka terlihat tajam, setara dengan iMac 27 inci Retina 5K.
Meirro Pro 6K hanya menyediakan lima port USB-C di bagian belakang. Satu port upstream mendukung DisplayPort 2.1 hingga 80Gbps bandwidth dan 96W pengisian daya untuk MacBook. Empat port downstream lainnya merupakan USB 2.0 (hingga 480 Mbps) — cukup untuk webcam, speaker, atau periferal ringan, tapi tidak untuk SSD eksternal cepat. Saya sendiri menghubungkan monitor ke MacBook Pro via hub Thunderbolt Satechi, dan semuanya berfungsi tanpa masalah.
Karena tidak ada tombol, monitor ini dilengkapi remote inframerah untuk mengakses menu pengaturan. Namun, bagi yang terbiasa dengan monitor tradisional, absennya tombol fisik mungkin terasa janggal saat pertama kali.
Selama seminggu sebagai monitor utama, kombinasi ukuran 32 inci dan resolusi 6K memberi ruang kerja yang lega. Saya bisa membuka timeline Final Cut Pro, panel media, dan jendela pratinjau secara bersamaan tanpa harus scroll. Untuk riset, 32 inci 6K terasa seperti memiliki dua monitor 24 inci 4K yang disandingkan — sangat membantu untuk multitasking.
Kecerahan 450 nits cukup untuk ruangan dengan jendela besar, meski saya tetap berharap ada opsi lapisan matte. Panel glossy memang memantulkan cahaya, tapi lapisan anti-reflektifnya cukup efektif mengurangi silau.
Ada beberapa kompromi yang membuat harga $1.199 bisa tercapai. Pertama, refresh rate hanya 60Hz — tidak ideal untuk gaming, tapi wajar untuk monitor produktivitas. Kedua, port downstream USB 2.0 sangat lambat; jangan harap bisa mentransfer file besar melalui port tersebut. Ketiga, tidak ada opsi layar matte, yang mungkin kurang nyaman bagi pengguna di ruangan dengan pencahayaan atas yang kuat.
Selain itu, karena produk ini relatif baru di pasar, dukungan garansi dan servis di Indonesia masih perlu dicek langsung ke distributor resmi. Namun secara build quality, monitor ini terasa kokoh dan ready-to-use langsung dari kotak.
Meirro Pro 6K adalah alternatif paling masuk akal bagi pengguna Mac yang menginginkan layar retina 32 inci tanpa harus merogoh kocek lebih dari $3.000. Dengan harga $1.199 (sekitar Rp19,8 juta), Anda mendapatkan panel 6K, bodi aluminium premium, stand adjustable, dan dukungan daya 96W via satu kabel. Kompromi utamanya ada di port USB 2.0 dan refresh rate 60Hz, namun untuk produktivitas kreatif seperti editing video, desain grafis, dan multitasking berat, monitor ini sangat mumpuni.
Jika Anda adalah kreator konten yang sudah menggunakan MacBook Pro dan ingin satu monitor eksternal dengan kualitas retina sejati, Meirro Pro 6K layak masuk daftar pertimbangan — asalkan Anda bisa menerima keterbatasan port dan tidak bermain game kompetitif. Bagi yang membutuhkan konektivitas lebih lengkap, mungkin perlu menunggu varian berikutnya atau tetap memilih Apple Studio Display dengan port Thunderbolt yang lebih cepat.