Riset Arkeoseismologi ITS: Gempa dan Banjir Lahar Purba Ikut Percepat Runtuhnya Majapahit

Penulis: Bastian Sihombing  •  Senin, 27 Juli 2026 | 00:23:01 WIB
Gempa bumi purba yang memicu likuifaksi terdeteksi di bawah situs Trowulan melalui analisis stratigrafi sedimen.

SUMATERA BARAT — Dosen Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr. Ir. Firman Syaifuddin, S.Si., M.T., menyatakan bahwa di bawah hamparan tanah Trowulan tersimpan bukti yang mengarah pada dua bencana raksasa yang datang silih berganti. "Majapahit tidak hanya runtuh oleh pedang, tetapi juga oleh amukan alam," katanya.

Dua Bencana Raksasa yang Menghantam Pusat Kota Majapahit

Melalui analisis stratigrafi dan granulometri sedimen tanah, para ilmuwan menemukan bahwa situs-situs penting seperti Kumitir, Kedaton, dan Minakjinggo telah disapu oleh setidaknya dua jenis bencana. Pertama, gempa bumi dahsyat yang memicu likuifaksi—pencairan tanah akibat getaran kuat. "Saat gempa mengguncang, sedimen aluvial yang belum padat kehilangan kekuatannya. Analisis geologi menemukan struktur tanah grain-supported di bawah reruntuhan, selaras dengan kondisi bangunan candi yang hancur dan terpuntir parah," jelas Firman.

Kedua, kawasan Trowulan juga diduga diterjang banjir bandang yang membawa material vulkanik dari kompleks Gunung Arjuno hingga Gunung Kelud. "Di bawah mikroskop, lapisan tanah menunjukkan endapan matrix-supported, pola saluran (channeling), serta fragmen bata yang tersusun miring searah arus air. Pelacakan GIS memastikan material ini adalah muntahan dari Kompleks Vulkanik Arjuno dan letusan Gunung Kelud yang mengalir deras menghantam pusat kota," ujarnya.

Arsitektur Bata Merah sebagai Perekam Gempa Purba

Firman menjelaskan, karakter bangunan Majapahit yang didominasi bata merah tanpa semen modern justru menjadi keunggulan dalam penelitian arkeoseismologi. Struktur ini mampu merekam dampak gempa secara presis—pilar terpuntir, dinding runtuh terarah, hingga retakan tembus. Dalam ilmu arkeoseismologi, fenomena ini disebut Earthquake Archaeological Effects (EAE).

Secara geologi, Trowulan berada di kawasan sangat aktif. Kota kuno ini berdiri di atas cekungan sedimen aluvial yang diapit zona subduksi lempeng Indo-Australia di selatan, kompleks gunung api Arjuno-Kelud, serta dilintasi Sistem Sesar Watukosek dan dipengaruhi Sesar Naik Kendeng. "Trowulan berdiri anggun di atas cekungan sedimen aluvial yang diapit oleh mesin-mesin tektonik paling aktif di Pulau Jawa," kata Firman.

Selaras dengan Catatan Naskah Kuno: Lindu, Bumi Ketug, dan Pralaya

Bukti geologi tersebut memiliki keterkaitan dengan berbagai naskah Jawa Kuno. Sinkronisasi antara lapisan sedimen dan catatan dalam Kakawin Nagarakretagama serta Kitab Pararaton membuat riset Trowulan menjadi sangat komprehensif. Dalam naskah kuno dikenal istilah lindu, bumi ketug, hingga Pralaya sebagai bentuk pencatatan bencana besar.

Firman menyebut catatan tersebut menunjukkan adanya peristiwa gempa dan banjir besar pada 1334 M, gempa hebat atau Palindu pada 1450 M, hingga Guntur Pawatugunung pada 1481 M yang diduga berkaitan dengan banjir bandang dan aktivitas vulkanik.

Teknologi Modern untuk Mengungkap Sejarah Bencana

Penelitian arkeoseismologi modern kini memanfaatkan berbagai teknologi mutakhir, seperti LiDAR, Ambient Noise Tomography (ANT), kecerdasan buatan berbasis Bayesian PINN, hingga citra satelit Google Earth Engine dan radar Sentinel-1. Temuan ini membuka perspektif baru bahwa keruntuhan imperium besar tidak semata-mata disebabkan faktor manusia, melainkan juga kekuatan alam yang jarang terungkap dalam narasi sejarah konvensional.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top