PADANG — Setelah diguyur hujan ekstrem dengan curah hujan mencapai 285,6 milimeter pada Senin (3/8), BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau memastikan intensitas hujan di Sumatera Barat mulai menurun pada pekan pertama Agustus 2026. Meski begitu, potensi hujan ringan hingga sedang masih mengintai sejumlah wilayah, terutama pada awal pekan.
Menurut BMKG, dinamika atmosfer menunjukkan perubahan signifikan. Indeks Ocean Dipole (IOD) yang bergerak menuju fase positif disebut berkontribusi mengurangi pertumbuhan awan hujan di wilayah barat Indonesia.
Tingginya curah hujan pada periode 1-3 Agustus lalu tidak terlepas dari aktivitas Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial yang melintasi Indonesia bagian barat. Kondisi ini diperparah dengan adanya belokan angin, daerah konvergensi, serta suhu muka laut yang masih hangat.
Faktor-faktor tersebut meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem. Catatan BMKG menunjukkan, pada 3 Agustus, hujan sangat lebat juga melanda Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Sehari sebelumnya, curah hujan di Padang Pariaman tercatat mencapai 102,5 milimeter.
Memasuki periode 4-6 Agustus, cuaca di Sumatera Barat diprakirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, peningkatan hujan berintensitas sedang berpotensi terjadi di sembilan wilayah, yakni Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Padang Pariaman, Kota Padang, Pesisir Selatan, Solok, Solok Selatan, dan Sijunjung.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah tersebut tetap waspada terhadap potensi genangan atau banjir lokal akibat akumulasi hujan, meskipun intensitasnya tidak sebesar pekan sebelumnya.
Memasuki periode 7-10 Agustus, kondisi cuaca diperkirakan semakin membaik. BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Sumatera Barat akan didominasi cuaca cerah berawan hingga hujan ringan.
Dalam prakiraan tersebut, tidak terdapat potensi hujan lebat, hujan sangat lebat, maupun angin kencang yang masuk kategori peringatan dini atau status siaga. Meski demikian, karakteristik topografi Sumatera Barat yang berbukit tetap berpotensi memicu pembentukan awan lokal secara tiba-tiba di sore hari.