PADANG — Perhelatan fesyen tahunan ini menghadirkan koleksi dari desainer lokal, nasional, hingga mancanegara. Karya Mira Muraza Songket menjadi salah satu pusat perhatian saat para model melenggang di panggung utama.
Para perancang tidak sekadar membawa motif tradisional Minangkabau. Mereka mengolahnya dengan teknik dan siluet modern untuk menarik minat pembeli global tanpa menghilangkan identitas budaya asli.
Songket Minangkabau selama ini identik dengan acara adat dan upacara resmi. Padang Fashion Summit mematahkan anggapan itu dengan menghadirkan songket dalam balutan busana kasual hingga gaun malam.
Kombinasi warna berani dan potongan kontemporer menjadi ciri utama koleksi yang ditampilkan. Para desainer juga bereksperimen dengan bahan daur ulang dan sisa produksi tekstil demi mendukung konsep ramah lingkungan.
Prinsip sustainable fashion yang diusung bukan sekadar tren, melainkan respons atas isu limbah industri tekstil yang kian mengkhawatirkan.
Keterlibatan desainer mancanegara membuka peluang kolaborasi lintas negara. Lewat forum ini, perajin songket di kampung-kampung terhubung langsung dengan pembeli dan rumah mode internasional.
Dampak ekonomi dari perhelatan ini diharapkan mengalir hingga ke tingkat bawah. Permintaan pasar yang meningkat akan mendorong regenerasi perajin muda untuk melestarikan keterampilan menenun.
Padang Fashion Summit 2026 membuktikan bahwa wastra tradisional mampu bersaing di industri fesyen global. Inovasi tanpa melupakan akar budaya menjadi kunci utama keberhasilannya.
Ke depan, ajang serupa diharapkan rutin digelar untuk menjaga momentum promosi wastra Minangkabau di kancah internasional.