SUMATERA BARAT — Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut aktivitas seismik susulan diperkirakan masih akan berlangsung tiga hingga empat minggu ke depan. Dari ribuan gempa susulan tersebut, kekuatannya bervariasi antara magnitudo 1,0 hingga yang terbesar magnitudo 6,2, dan 152 di antaranya dirasakan oleh masyarakat.
Konsentrasi Korban Terbesar di Manggarai
Data BNPB menunjukkan sebaran korban jiwa paling banyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 45 orang, disusul Manggarai Timur 38 orang, dan Nagekeo 13 orang. Profil korban didominasi kelompok rentan, di mana 56,4 persen merupakan perempuan dan 45 persen dari total keseluruhan adalah lansia.
Kelompok usia dewasa menyumbang 37 persen dari total korban jiwa. Angka ini menyiratkan bahwa gempa yang mengguncang pada tengah malam itu memakan banyak korban dari mereka yang kesulitan menyelamatkan diri saat guncangan terjadi.
Pengungsi Mulai Berkurang, Sebagian Pilih Bertahan
Meski korban jiwa stagnan, jumlah pengungsi dilaporkan mulai menurun. BNPB mencatat 712 pengungsi di Kabupaten Sikka telah kembali ke rumah masing-masing, sehingga akumulasi total pengungsi di NTT kini tercatat sebanyak 175.909 jiwa.
Berton mengimbau warga yang masih ragu kembali ke rumah untuk memanfaatkan posko pengungsian terpusat. Langkah ini dinilai mempermudah pendistribusian logistik, air bersih, fasilitas MCK, dapur umum, serta layanan kesehatan dasar bagi para pengungsi.
"Hingga hari ini setelah gempa 7,7 magnitudo tanggal 15 Agustus 2026 yang lalu, BMKG sudah mencatat adanya 8.794 kali gempa susulan," kata Berton dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Aktivitas Seismik Diprakirakan Masih Berlanjut
Para ahli memprakirakan guncangan susulan masih akan terjadi selama sebulan ke depan, mengingat energi yang belum sepenuhnya terlepaskan dari patahan aktif di wilayah Flores. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bangunan yang sudah retak akibat gempa utama.
BNPB juga mengingatkan agar warga yang kembali ke rumah memeriksa kondisi struktur bangunan terlebih dahulu. Hal ini untuk mengantisipasi risiko roboh saat terjadi guncangan susulan berkekuatan sedang hingga besar.