Dokter Paru RSUP Persahabatan Ingatkan Warga Sumatera Barat: Ibu Hamil dan Balita Paling Rentan Terdampak Asap Karhutla

Penulis: Topan Lubis  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:53:01 WIB
Ibu hamil dan balita disebut sebagai kelompok paling rentan terdampak kabut asap karhutla di Sumatera Barat.

PADANG — Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked, mengingatkan bahwa kelompok rentan adalah yang paling mudah mengalami dampak buruk dari kabut asap karhutla. Mereka yang termasuk dalam kategori ini adalah ibu hamil, anak-anak, balita, lansia, serta penderita penyakit kronis seperti asma, PPOK, dan gangguan jantung.

"Kelompok-kelompok yang sangat mudah terdampak baik oleh efek jangka pendek maupun jangka panjang akibat kebakaran hutan. Jadi, pada keluarga-keluarga yang memiliki kelompok rentan tersebut harus lebih waspada," ujar Feni yang berpraktik di RSUP Persahabatan, Jakarta, Rabu (18/9).

Gejala Akut yang Harus Diwaspadai Masyarakat

Feni menjabarkan sejumlah gejala awal yang kerap muncul ketika seseorang terpapar asap karhutla. Iritasi saluran napas, batuk, pilek, hidung berair, hingga mata yang terasa tidak nyaman menjadi tanda-tanda yang perlu diantisipasi.

Jika keluhan tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, apalagi disertai demam, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Kondisi ini dianggap serius apabila terjadi perburukan pada orang yang tadinya sehat.

"Apabila terlihat perburukan kondisi atau kondisi yang tidak membaik dari kondisi sehari-hari pada orang-orang yang punya faktor risiko tersebut ataupun orang sehat yang jadinya, yang tadinya sehat kemudian terlihat tampak lebih sakit daripada kondisi biasanya. Itu yang harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan," tutur dia.

Kandungan Berbahaya dalam Asap Karhutla

Dosen di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan, asap karhutla bukan sekadar polusi biasa. Di dalamnya terkandung berbagai gas beracun dan partikel halus yang membahayakan tubuh.

Gas yang terkandung antara lain karbon monoksida, sulfur dioksida, ozon, dan particulate matter berukuran kurang dari 2 mikron. Saat kebakaran hutan terjadi, konsentrasi gas-gas ini melonjak jauh melebihi nilai ambang batas aman bagi tubuh manusia.

"Sehingga tentu saja dengan gas-gas yang sudah berbahaya, kadarnya tinggi, itu akan menimbulkan efek atau risiko penyakit pada orang-orang yang ada di sekitarnya," ujar Feni.

Risiko Jangka Panjang: Penurunan Fungsi Paru

Dampak buruk asap karhutla tidak berhenti pada gangguan akut. Jika efek awal seperti ISPA tidak kunjung pulih karena lingkungan sekitar masih diselimuti polusi, risiko penyakit berkepanjangan mengintai.

Kondisi ini bisa memicu batuk terus-menerus, tubuh yang mudah sakit, hingga meningkatnya kebutuhan perawatan di rumah sakit. Lebih jauh lagi, paparan yang berlangsung lama berpotensi menyebabkan penurunan fungsi paru secara permanen.

"Pasien yang asma maupun PPOK ataupun punya penyakit jantung menjadi makin tidak terkontrol penyakitnya sehingga angka kesakitan, angka harus dirawat di rumah sakit itu akan meningkat," kata Feni.

Bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi karhutla atau wilayah yang tertutup kabut asap, penggunaan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan menjadi langkah preventif yang disarankan. Perhatian ekstra wajib diberikan kepada anggota keluarga yang termasuk kelompok rentan.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top