Sebanyak 13 kelompok nelayan di Kota Pariaman, Sumatera Barat, menerima bantuan mesin kapal tempel untuk memodernisasi sarana penangkapan ikan pada tahun ini. Bantuan tersebut berasal dari anggota DPRD Provinsi Sumbar dan anggota DPRD Kota Pariaman di tengah keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setempat.
PARIAMAN — Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman mencatat kebutuhan modernisasi sarana tangkap ikan bagi nelayan tradisional semakin mendesak. Sebab, mesin dan peralatan yang digunakan selama ini mulai rusak karena usia pemakaian, sementara jarak tempuh melaut relatif dekat sehingga hasil tangkapan tidak maksimal.
Kepala Bidang Perikanan dan Kelautan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman, Zainal, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak bisa menganggarkan dana untuk program tersebut melalui APBD Kota Pariaman. Keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama, sehingga peran anggota dewan menjadi pintu masuk bantuan dari pemerintah provinsi.
Pada tahun ini, anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, M. Yasin, membantu 11 kelompok nelayan Pariaman untuk mendapatkan mesin kapal tempel. Bantuan tersebut terdiri dari empat unit mesin berkekuatan 15 Pk dan tujuh unit mesin berkekuatan 13 Pk.
Zainal menjelaskan bahwa untuk unit mesin 15 Pk telah diserahkan kepada penerima beberapa bulan lalu. Sementara untuk tujuh unit mesin 13 Pk, prosesnya sudah memasuki tahapan rekomendasi calon penerima bantuan sarana penangkapan ikan.
Selain bantuan dari pemerintah provinsi, nelayan di kota tersebut juga menerima bantuan dari anggota DPRD Kota Pariaman, Yusrizal. Melalui dana pokok pikiran (pokir), Yusrizal menyalurkan dua unit mesin tempel dengan kekuatan 15 Pk.
Dinas terkait telah memasukkan berkas pembelian dua unit mesin tempel tersebut ke Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) pada pekan lalu. Langkah ini dilakukan agar proses pengadaan bisa segera dieksekusi dan bantuan dapat diterima nelayan tepat waktu.
Jumlah nelayan di Pariaman mencapai ratusan orang. Dari total tersebut, sebagian besar masih menggunakan sarana penangkapan ikan tradisional, seperti payang sekitar 30 unit dan ratusan kapal motor tempel. Sementara itu, sarana modern yang digunakan hanya berupa enam unit bagan dan lima unit tonda.
Ketimpangan ini membuat produktivitas nelayan tradisional kalah jauh dibandingkan nelayan yang sudah menggunakan peralatan modern. Padahal, perbaikan sarana tangkap ikan berdampak langsung pada peningkatan produksi dan pendapatan nelayan.
Zainal menambahkan, meskipun APBD Kota Pariaman tidak bisa dialokasikan untuk program ini, pihaknya setiap tahun tetap memperjuangkan bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat. "Hampir setiap tahun Pariaman dapat bantuan," katanya di Pariaman, Rabu.