SUMATERA BARAT — Kabar kepemilikan mobil listrik baru oleh pejabat publik memang selalu menarik perhatian, apalagi jika menyangkut sosok Menteri Keuangan. Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengonfirmasi bahwa ia kini menggunakan Xpeng X9, sebuah Multi Purpose Vehicle (MPV) listrik premium dari pabrikan asal China. Langkah ini ia nilai sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program pemerintah dalam mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Xpeng X9 tidak hadir sebagai pemain kecil. Dengan banderol Rp 1,14 miliar hingga Rp 1,259 miliar (OTR Jakarta), mobil ini secara langsung menantang dominasi Toyota Alphard dan bersaing ketat dengan Denza D9. Di kelas harga ini, pembeli tidak hanya membayar untuk sekadar kendaraan, melainkan untuk paket teknologi dan kenyamanan yang ditawarkan.
Salah satu keunggulan utama X9 adalah dimensinya yang sangat lega. Dengan panjang 5.316 mm, lebar 1.988 mm, tinggi 1.785 mm, dan jarak sumbu roda 3.160 mm, kabinnya menawarkan ruang yang jauh lebih lapang dibandingkan kompetitor di kelasnya. Angka ini bukan sekadar spek di atas kertas; ia berdampak langsung pada kenyamanan baris kedua dan ketiga untuk penumpang dewasa.
Xpeng memasarkan X9 dalam tiga varian: Standar Range, Long Range Pro, dan Long Range Pro+. Klaim jarak tempuh pabrikan cukup menggoda, yaitu 620 km untuk varian standar dan 715 km untuk varian tertinggi. Namun, perlu digarisbawahi bahwa angka ini diukur berdasarkan standar NEDC yang cenderung optimistis dan jauh dari kondisi dunia nyata.
Untuk pemakaian harian di dalam kota dengan lalu lintas padat seperti Jakarta, angka real-world biasanya lebih rendah 20-30 persen dari klaim NEDC. Anda bisa berekspektasi sekitar 450-500 km untuk varian Long Range Pro+ dalam penggunaan kombinasi. Ini masih tergolong impresif untuk MPV sebesar ini, tapi jangan berharap mencapai angka 700 km dalam perjalanan tol dengan kecepatan konstan tinggi.
Salah satu fitur yang paling menarik perhatian adalah konfigurasi kursi baris ketiga yang bisa dilipat dengan rasio 60:40. Ini adalah nilai jual utama X9. Alih-alih mengorbankan seluruh kursi belakang, Anda bisa melipat sebagian untuk memuat barang panjang seperti tas golf, sepeda lipat, atau koper besar, sambil tetap membawa satu penumpang di baris ketiga.
Fleksibilitas ini jarang ditemukan di MPV premium sekelasnya dan menjadi pembeda signifikan dari Alphard yang cenderung kaku dalam konfigurasi kabin. Namun, perlu diingat bahwa mekanisme lipat elektrik yang rumit berpotensi menjadi sumber masalah di kemudian hari jika tidak dirawat dengan baik. Ini adalah salah satu aspek yang perlu Anda pertimbangkan untuk biaya perawatan jangka panjang.
Meski menawarkan banyak hal, ada beberapa catatan penting. Pertama, sebagai merek baru di Indonesia, jaringan layanan purna jual Xpeng belum seluas Toyota atau bahkan Denza. Ketersediaan suku cadang dan waktu tunggu perbaikan bisa menjadi pertimbangan serius untuk mobil seharga miliaran rupiah.
Kedua, nilai jual kembali (resale value) mobil listrik China di pasar Indonesia masih menjadi tanda tanya besar. Dibandingkan Alphard yang sudah terbukti stabil, Xpeng X9 adalah investasi yang lebih berisiko jika Anda terbiasa mengganti mobil setiap 3-5 tahun. Terakhir, Purbaya sendiri tidak menyebut varian mana yang ia beli, sehingga spekulasi soal fitur lengkap di mobil dinasnya itu tetap terbuka.
Xpeng X9 adalah pilihan rasional bagi mereka yang mengutamakan teknologi, ruang kabin, dan biaya operasional rendah tanpa peduli pada gengsi merek. Ia adalah alternatif cerdas bagi keluarga yang ingin beralih ke elektrifikasi tanpa mengorbankan kenyamanan MPV mewah. Namun, jika prioritas Anda adalah ketenangan pikiran dalam hal perawatan, ketersediaan bengkel, dan nilai jual kembali yang stabil, Toyota Alphard atau bahkan Denza D9 yang sudah lebih mapan di Indonesia mungkin masih menjadi pilihan yang lebih aman.