TANAH DATAR — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) merampungkan pemasangan Jembatan Bailey di titik yang sebelumnya hanyut diterjang banjir pada 20 Mei 2026. Kini arus kendaraan mulai ramai kembali melintas, mulai dari bus penumpang, truk ekspedisi, hingga kendaraan pengangkut hasil perkebunan dan pertanian.
Anggaran Rp4,9 Miliar untuk Jembatan 42 Meter
Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar, Mitra Hengki, menjelaskan total anggaran pembangunan jembatan beserta pemasangannya mencapai Rp4,9 miliar. Jembatan sepanjang 42 meter dengan lebar 4,2 meter ini mampu menahan beban kendaraan hingga 15–20 ton.
“Pekerjaan yang paling menyita waktu adalah pembangunan abutment atau tapak jembatan yang dikerjakan secara swakelola dengan anggaran sekitar Rp800 juta. Sementara pengadaan konstruksi Jembatan Bailey menelan biaya sekitar Rp4,1 miliar,” ujar Mitra Hengki di Tanah Datar, Selasa (28/7/2026).
Perakitan Hanya Tiga Hari, Warga Kembali Bisa Melintas
Proses perakitan jembatan dimulai pada 6 Juli dan hanya butuh tiga hari hingga bisa dilalui masyarakat pada 9 Juli. Meski bersifat sementara, jembatan ini disebut memiliki daya tahan cukup lama dan bisa digunakan bertahun-tahun.
“Ini merupakan solusi cepat untuk memulihkan konektivitas sambil menunggu pembangunan jembatan permanen yang diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp25 miliar,” kata Mitra Hengki.
Ekonomi Warga Lumpuh Selama Akses Terputus
Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil, mengatakan putusnya jembatan sempat melumpuhkan perekonomian masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor perkebunan karet dan peternakan ayam petelur. Banyak pelaku UMKM terpaksa menutup usahanya karena aktivitas ekonomi berhenti total.
“Sekarang setelah Jembatan Bailey dibuka, usaha masyarakat mulai berjalan kembali dan ekonomi kembali bergerak,” katanya.
Warung dan Rumah Makan Kembali Ramai Pelanggan
Rela Islamiah (26), pemilik warung di sekitar lokasi jembatan, mengaku usahanya kembali hidup setelah arus lalu lintas normal. “Alhamdulillah, sekarang sudah ada lagi uang yang berputar setiap hari dari hasil jualan kami,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan It (60), pemilik Rumah Makan Elok Basamo. Rumah makannya kembali ramai dikunjungi sopir truk yang dulu biasa singgah sebelum akses terputus. “Masyarakat sangat terbantu karena sekarang bisa kembali menjalankan usaha,” tuturnya.
Sebelum jembatan beroperasi, warga terpaksa memutar melalui jalur Kumani–Tanjung Bonai Aua–Koto Panjang–Tigo Jangko–Pangian Lintau dengan tambahan jarak sekitar 19 hingga 20 kilometer atau waktu tempuh mencapai satu jam. Kini para pelajar yang sebelumnya harus menempuh perjalanan panjang juga kembali menggunakan jalur utama untuk berangkat dan pulang sekolah.