Lahan persawahan seluas 1.263 hektare di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang rusak akibat bencana hidrometeorologi akhir 2025 berangsur pulih. Sebagian sawah di Korong Tanah Taban, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Aluang, bahkan sudah ditanami kembali dan akan segera dipanen petani.
PARIK MALINTANG — Pemulihan lahan pertanian pascabencana di Padang Pariaman mulai menunjukkan hasil. Sawah yang sempat tertutup material banjir bandang di Korong Tanah Taban, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Aluang, kini kembali hijau dan memasuki masa panen.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Irawati Febriani, menyebut pemulihan ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman.
Pemicu Kerusakan: Sumur Tertimbun Material Banjir
Sebelum bencana, petani di kawasan tersebut mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan air persawahan karena belum ada jaringan irigasi teknis. Banjir bandang kemudian menimbun sumur-sumur itu dengan material, sehingga aktivitas pertanian sempat terhenti total.
Pemerintah merespons dengan memberikan bantuan irigasi perpompaan dan membangun jaringan irigasi tersier. "Dengan adanya sarana irigasi, kami berharap ketersediaan air dapat lebih terjamin sehingga lahan tetap produktif dan petani dapat terus melakukan kegiatan budidaya," kata Irawati di Parik Malintang, Sabtu.
Petani Kembali Tanam Serentak pada 13 Mei 2026
Setelah lahan dibersihkan dari material dan saluran air diperbaiki, petani di Tanah Taban serentak menanam padi pada 13 Mei 2026. Kini tanaman tersebut telah memasuki fase panen.
Irawati menegaskan kondisi ini menjadi bukti bahwa lahan pertanian terdampak bencana dapat kembali dimanfaatkan apabila ditangani secara tepat dan melibatkan kolaborasi berbagai pihak.
446 Hektare Rusak Ringan Tuntas, 40 Hektare Rusak Sedang Menyusul
Dari total 1.263 hektare sawah yang rusak, rinciannya adalah 446 hektare rusak ringan, 238 hektare rusak sedang, 450 hektare rusak berat, dan 100 hektare lainnya dinyatakan hilang.
Pemerintah telah memulihkan seluruh sawah yang mengalami rusak ringan melalui program Optimalisasi Lahan (Oplah). Untuk sawah rusak sedang, perbaikan sudah menjangkau 198 hektare melalui program rehabilitasi, sehingga tersisa 40 hektare lagi.
434 Hektare Rusak Berat dan Hilang Masih Menunggu Verifikasi
Penanganan lahan rusak berat belum sepenuhnya tuntas. Sebanyak 234 hektare telah diajukan kepada Kementerian Pertanian melalui program Rehabilitasi Refocusing dan kini memasuki tahapan verifikasi serta validasi lapangan.
Sementara itu, sawah yang dinyatakan hilang seluas 100 hektare masih dalam proses pengusulan untuk memperoleh dukungan penanganan lebih lanjut dari pemerintah pusat.