Empat Titik Bersejarah Syekh Burhanuddin di Padang Pariaman, Khalifah Ke-XV Minta Negara Bangun Museum Layak

Penulis: Ronal Siregar  •  Senin, 25 Mei 2026 | 10:25:01 WIB
Kompleks Makam Syekh Burhanuddin di Nagari Manggopoh menjadi salah satu titik bersejarah di Padang Pariaman.

PADANG PARIAMAN — Empat lokasi bersejarah yang tak terpisahkan dari jejak Syekh Burhanuddin Ulakan di Kabupaten Padang Pariaman kini menjadi perhatian serius ahli waris. Khalifah Ke-XV Syekh Burhanuddin, Buya Hery Firmansyah, meminta negara hadir untuk menyelamatkan warisan peradaban ini dari ancaman banjir dan keterbatasan fasilitas penyimpanan.

Dalam pertemuan dengan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon pada Jumat, 13 Maret 2026, Buya Hery menjelaskan empat titik penting yang menjadi sakbis penyebaran Islam di Sumatera Barat. "Syekh Burhanuddin Ulakan bukan sekadar nama dalam sejarah. Beliau adalah sumber suluh, sanad ilmu, tonggak penyebaran Islam, dan salah satu mata air peradaban Minangkabau," ujarnya dalam pernyataan resmi yang diterima Antara.

Empat Lokasi Sakral Jejak Syekh Burhanuddin

Keempat lokasi tersebut adalah Kompleks Makam Syekh Burhanuddin di Nagari Manggopoh Palak Gadang Ulakan, Masjid Tua Syekh Burhanuddin di Kampung Koto Nagari Ulakan Tengah, Surau Gadang Tanjung Medan, dan Kompleks Surau Pondok Ketek di Koto Panjang Timur Nagari Sandi Ulakan. Di Surau Pondok Ketek inilah tersimpan puluhan peninggalan berharga, termasuk 53 manuskrip dan satu karya berjudul "Tazkir al-Ghabiy" yang telah ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional oleh Perpustakaan Nasional RI.

Manuskrip tersebut bukan satu-satunya benda bersejarah yang dirawat ahli waris. Di kompleks yang sama juga tersimpan empat helai jubah, tiga peci, kitab berkulit upih, ikat pinggang, serta pandiang loyang—yang menurut sejarah merupakan amanah dari Syekh Ahmadul Qusyasi kepada Syekh Abdul Rauf Singkil untuk diberikan kepada Syekh Burhanuddin sebagai ijazah.

Museum Sementara Terendam Banjir Berulang Kali

Kondisi museum sementara yang dikelola Yayasan Ahli Waris Syekh Burhanuddin di Surau Pondok Ketek sangat memprihatinkan. Buya Hery mengungkapkan bahwa dalam rentang November 2025 hingga awal Januari 2026, kawasan tersebut beberapa kali terendam banjir yang melanda Ulakan dan Kabupaten Padang Pariaman. Padahal, tempat ini rutin dikunjungi jamaah Syathariyah, tokoh masyarakat, pejabat nasional, hingga tamu internasional dan peneliti.

"Museum Syekh Burhanuddin adalah amanah sejarah, amanah umat, dan amanah kebudayaan. Ia tidak boleh diperlakukan semata sebagai proyek fisik, apalagi sebagai ruang tarik-menarik kepentingan," tegas Buya Hery yang juga menjabat sebagai Tuanku Khalifah Khalifah Ke-XV Syekh Burhanuddin Ulakan.

Menteri Kebudayaan Sambut Baik Rencana Pembangunan

Dalam audiensi yang dihadiri sejumlah tokoh, termasuk M. Yusuf Tuanku Rajo Disambah dari Istano Salinduang Bulan Pagaruyung dan Kepala BPK3 Drs. Nurmantias, Buya Hery memohon agar negara membantu membangun museum yang memenuhi standar. Permintaan itu mencakup bangunan aman banjir, ruang penyimpanan memadai, tata pamer, narasi sejarah, serta perangkat konservasi untuk menjaga benda-benda peninggalan dan manuskrip warisan Syekh Burhanuddin.

Menteri Fadli Zon secara lisan menyambut baik harapan tersebut. Belum ada keputusan lebih lanjut mengenai anggaran atau lokasi pembangunan museum, namun langkah audiensi ini menjadi pintu awal bagi pengakuan negara terhadap warisan Syekh Burhanuddin yang selama ini dirawat secara mandiri oleh ahli waris di tengah keterbatasan.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top