SUMATERA BARAT — Mata uang Garuda langsung terkapar di sesi pertama perdagangan. Level Rp17.878 menjadi yang terlemah dalam beberapa pekan terakhir, memperpanjang tren negatif sejak akhir bulan lalu.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah menjadi pemicu utama. "Eskalasi baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS," ujarnya.
Kenaikan harga minyak menjadi beban ganda bagi rupiah. Indonesia sebagai importir minyak harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli komoditas energi, sementara dolar AS justru menguat sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi. Sejumlah mata uang kompak berada di zona merah, dipimpin ringgit Malaysia yang anjlok 0,25 persen. Yuan China ikut tertekan 0,11 persen, sementara peso Filipina turun 0,03 persen.
Di sisi lain, won Korea Selatan justru menguat 0,11 persen. Yen Jepang naik tipis 0,03 persen, dolar Singapura bertambah 0,02 persen, dan dolar Hong Kong terapresiasi 0,01 persen. Pola ini menunjukkan investor masih selektif dalam menyikapi gejolak geopolitik.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang hari ini. Artinya, level psikologis Rp17.900 masih berpotensi ditembus jika tekanan jual terhadap rupiah berlanjut.
Investor disarankan mencermati perkembangan harga minyak dan pernyataan pejabat Bank Indonesia hari ini. Intervensi BI di pasar valas kerap menjadi tameng terakhir untuk menahan laju pelemahan yang terlalu dalam.
Investasi mengandung risiko.