PADANG PANJANG — Di sudut kota kecil Padang Panjang, Sumatera Barat, ada pesantren yang nyaris setiap hari kedatangan tamu. Mereka bukan sekadar bersilaturahmi, melainkan datang untuk mempelajari tata kelola lembaga pendidikan yang tetap relevan di tengah perubahan zaman. Pesantren itu adalah Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang.
Pesantren ini memulai perjalanannya pada 1931 dengan nama Tabligh School—sekolah kader pencetak pendakwah. Lima tahun berselang, namanya berganti menjadi Kulliyatul Muballighien. Kini, ia tampil dengan tagline: "The International School of Quran, Science, and Technology."
Transformasi itu bukan sekadar perubahan papan nama. Kurikulumnya memadukan empat sumber: Kementerian Agama, Kemendikbudristek, Muhammadiyah, dan kurikulum khas pesantren. Pendekatan ISTEM menjadi jantung pembelajaran—santri menghafal Al-Qur’an sambil menguasai sains dan teknologi modern.
Mudir Pesantren, Dr. Derliana, M.A., menegaskan bahwa pengelolaan lembaga tidak boleh lagi dilakukan secara instan atau sporadis. Pada Juni 2026, pesantren ini menyelesaikan delapan dokumen penting dalam Rapat Kerja Pimpinan: Naskah Akademik, Master Plan, Roadmap, Renstra, Buku Induk Kepegawaian, Aturan Keuangan, RKJM, RKT, dan RKAP.
“Kita tidak boleh lagi mengelola pesantren dengan cara instan atau sporadis. Delapan dokumen ini adalah kompas kita,” ujar Dr. Derliana.
Hasilnya, Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Bangkinang datang langsung untuk mempelajari tata kelola ini. Kauman kini menjadi laboratorium pendidikan yang dirujuk banyak sekolah.
Salah satu daya tarik utama pesantren ini adalah strategi pembiayaan mandiri melalui unit usaha. Lembaga ini membuktikan bahwa pendidikan berkualitas bisa berjalan tanpa bergantung sepenuhnya pada biaya dari santri. Kemandirian ekonomi menjadi kunci keberlanjutan di tengah mahalnya biaya pendidikan modern.
Santri di Kauman tidak hanya mengkaji kitab kuning. Mereka belajar bahasa di laboratorium modern, mengikuti English Camp internasional di Malaysia, dan terlibat proyek bahasa di Singapura. Kurikulumnya dirancang agar lulusan unggul secara akademik, spiritual, dan memiliki life skills yang dibutuhkan zaman.
Prestasi santri Kauman juga tak main-main. Mayanggi Sephira, salah satu santri, berhasil diterima di 13 perguruan tinggi bergengsi di tujuh negara—dari Australia, Inggris, Turki, hingga Amerika Serikat. Di bidang olahraga, Tim Tapak Suci pesantren ini mendominasi ajang Muhammadiyah Games 2026 dengan raihan lima medali.
Ketua PWM Sumbar menekankan bahwa internasionalisasi harus berjalan tanpa tercerabut dari nilai-nilai Kemuhammadiyahan. Pesantren ini tetap mempertahankan akar tradisi Minang di tengah gemerlap fasilitas modern dan koneksi global. Kauman menjadi model peradaban kecil: pendidikan Islam yang maju tanpa kehilangan identitas lokal.