SUMATERA BARAT — Penelitian yang terbit pada Mei lalu ini menganalisis dampak lingkungan kendaraan listrik dari hulu ke hilir, mulai dari proses manufaktur hingga penggunaan sehari-hari. Temuan utamanya: meski tak menghasilkan emisi dari knalpot, faktor sumber listrik dan pola berkendara tetap memengaruhi jejak karbon total sebuah EV.
“Komposisi listrik adalah kontributor paling penting dalam variasi regional ini,” tulis abstrak studi tersebut. Daerah yang masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara akan membuat emisi efektif EV lebih tinggi. Sebaliknya, wilayah dengan dominasi energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin akan memaksimalkan manfaat lingkungan mobil listrik.
Union of Concerned Scientists (UCS) sejak satu dekade lalu melacak data serupa di Amerika Serikat. Saat ini, rata-rata EV di AS memiliki emisi setara mobil bensin dengan konsumsi 96 mil per galon (sekitar 40,8 km/liter). UCS juga menyediakan alat online yang memperkirakan emisi berdasarkan kode pos, merek, dan tahun produksi kendaraan.
Pola berkendara ternyata punya dampak besar. Studi menemukan bahwa pengemudi di perkotaan mendapatkan pengurangan emisi lebih optimal dibandingkan di pedesaan. Dalam kondisi lalu lintas kota yang konsisten, mobil plug-in hybrid (PHEV) mampu mencapai 80-90% penghematan emisi dari EV murni — asalkan rutin diisi daya dan dikendarai dalam mode listrik.
Angka itu turun drastis menjadi 60% untuk area rural. Implikasinya jelas: untuk pemerintah daerah atau operator armada yang ingin menekan emisi, target adopsi EV bisa lebih rendah di kota padat. Studi menyebut hanya perlu 9% adopsi EV untuk mencapai pengurangan emisi 10% pada armada dengan jarak tempuh tinggi di perkotaan. Sementara di pedesaan dengan jarak tempuh rendah, butuh 42% adopsi EV untuk hasil yang sama.
Faktor iklim setempat disebut memiliki “efek yang lebih moderat” terhadap emisi relatif dibandingkan dua faktor sebelumnya. Artinya, perbedaan suhu atau kelembaban tidak mengubah hitungan emisi secara drastis.
Dari sisi kantong, studi ini membawa kabar baik. EV disebut sudah kompetitif secara biaya dengan mobil bensin “di banyak lokasi dan untuk banyak orang.” Penentu utamanya adalah harga listrik dibandingkan harga bensin di masing-masing wilayah. Kehadiran model EV murah seperti Slate pickup dan rivalnya dari Ford diprediksi akan memperbaiki posisi tawar mobil listrik bagi konsumen kelas menengah.