PADANG — Pemkot Padang memastikan program ini tidak sekadar mengajarkan membaca Al Quran, tetapi juga memahami kandungannya. Maigus Nasir menekankan bahwa melalui pembelajaran tahsin, tafsir, dan tahfiz, anak-anak diharapkan tidak berhenti setelah menamatkan Al Quran, melainkan terus berinteraksi dengan kitab suci tersebut.
Pelaksanaan program 3T akan disinkronkan dengan kurikulum Ta'limul Quran lil Aulad (TQA) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha (MDTW) yang sudah berjalan di Kota Padang. Langkah ini memastikan materi yang diajarkan tidak tumpang tindih dan memperkuat basis pendidikan agama yang telah ada di masyarakat.
Maigas menjelaskan, fokus utama tahsin adalah penyempurnaan bacaan Al Quran sesuai kaidah tajwid yang benar. Sementara itu, tafsir diarahkan pada pendalaman makna surat-surat dalam Juz 30. Adapun tahfiz bertujuan membiasakan peserta didik menghafal Al Quran secara berkesinambungan.
Program inovatif ini dijadwalkan mulai diterapkan secara serentak pada 16 Juli 2026. Proses pembelajaran akan berlangsung setiap Kamis, Jumat, dan Sabtu malam. Lokasi kegiatan dipusatkan di masjid serta musala yang memiliki basis TQA atau MDTW di seluruh wilayah Kota Padang.
"Melalui integrasi ketiga aspek ini, Pemkot Padang berharap peserta didik tidak hanya sekadar mampu membaca, namun juga memahami kandungan Al Quran," ujar Maigus Nasir, Minggu.
Pemerintah Kota Padang optimistis program ini mampu melahirkan generasi muda yang Qurani, berkarakter, dan berakhlak mulia. Dengan penggabungan aspek bacaan, pemahaman, dan hafalan, para pelajar diharapkan memiliki fondasi keagamaan yang kuat sejak usia remaja.
Program 3T menjadi salah satu prioritas Pemkot Padang dalam memperkuat pendidikan agama di tengah arus modernisasi. Langkah ini juga dinilai sebagai upaya preventif untuk membentuk moral generasi penerus di ibu kota Provinsi Sumatera Barat tersebut.