LUBUK BASUNG — Pemerintah Kabupaten Agam tidak hanya bicara soal inflasi di atas kertas. Seluruh pegawai negeri di lingkungan Pemkab Agam kini diinstruksikan untuk turun ke halaman kantor dan menanam cabai. Gerakan ini bukan seremonial belaka—hasil panennya akan dinilai dan diawasi langsung oleh tim dari Dinas Pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Agam, Heri Prasetyo Wibowo, menjelaskan bahwa cabai merah keriting merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi tertinggi di Sumatera Barat. Fluktuasi harga cabai sering kali memicu lonjakan angka inflasi bulanan yang memberatkan daya beli masyarakat.
"Cabai merah hasil pemanfaatan pekarangan untuk konsumsi sehari-hari bagi masyarakat," kata Heri di Lubuk Basung, Senin.
Agar gerakan ini tidak sekadar menanam lalu mati, Dinas Pertanian Agam menerjunkan tim penilai ke setiap OPD. Proses evaluasi dibagi menjadi tiga tahap dengan jadwal ketat. Penilaian pertama akan dilakukan pada pertengahan Juli 2026 untuk memeriksa tingkat pertumbuhan tanaman dan mengidentifikasi kendala teknis di lapangan.
Penilaian kedua dijadwalkan pada akhir Juli 2026. Sementara penilaian ketiga yang paling krusial akan berlangsung pada minggu keempat Agustus 2026—saat itulah tim akan menghitung hasil panen dan kualitas buah cabai yang dipetik.
Pemkab Agam tidak berhenti di halaman kantor. Heri menambahkan bahwa program ini dirancang untuk menjadi contoh bagi para ASN agar menanam cabai di pekarangan rumah masing-masing. Harapannya, kebiasaan ini menular ke masyarakat luas sehingga ketergantungan pada pasokan pasar berkurang.
"Ke depan bakal kita distribusi bibit cabai ke rumah tangga pada pertengahan Agustus 2026," ujar Heri.
Dengan pola ini, Pemkab Agam mencoba membangun ketahanan pangan dari unit terkecil—halaman rumah—sebagai tameng terhadap gejolak harga yang kerap terjadi setiap musim kemarau atau menjelang hari besar keagamaan.