10 Peserta Belajar Langsung ke Maestro Randai Sumbar di Padang Panjang, Program BBM 2026 Dimulai

Penulis: Maruli Sinaga  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 13:43:01 WIB
Sepuluh peserta dari empat provinsi mengikuti program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026 di Padang Panjang, Sumatera Barat, untuk mempelajari seni Randai.

PADANG PANJANG — Sebanyak 51 peserta memulai perjalanan pembelajaran dalam program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026 yang digelar Kementerian Kebudayaan. Salah satu lokasi pembelajaran berada di Padang Panjang, Sumatera Barat, dengan fokus pada seni Randai yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2017.

Sepuluh peserta terpilih dari Aceh, Medan, Sumatera Barat, dan Jawa Timur akan menjalani proses belajar intensif selama 30 hari. Mereka tidak hanya mempelajari teknik pertunjukan Randai, tetapi juga menyelami nilai, filosofi, dan cara pandang kebudayaan Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun.

Belajar 24 Jam: Bukan Sekadar Kelas Seni Biasa

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan, Nurmatias Zakaria, menekankan bahwa program ini berbeda dari kursus seni pada umumnya. "Tidak semua peserta beruntung bisa belajar langsung bersama maestro. Ini adalah kesempatan luar biasa bagi adik-adik untuk menggali ilmu selama 24 jam penuh setiap hari selama satu bulan," katanya di Padang Panjang, Kamis (16/7).

Para peserta diharapkan dapat memanfaatkan waktu 30 hari ini untuk mengasah karakter, kedisiplinan, dan kemampuan seni mereka. Pendekatan pembelajaran berlangsung di kediaman dan sanggar maestro masing-masing, sehingga peserta benar-benar hidup dalam keseharian sang maestro.

Apa yang Dipelajari dalam Randai?

Maestro Randai Sumbar, Mak Katik, menjelaskan bahwa Randai merupakan perpaduan antara silat, sastra, musik, dan dendang khas Minangkabau. "Program ini berfokus pada Randai yang di dalamnya terdapat perpaduan antara silat, sastra, musik, dan dendang. Untuk memperkuat pemahaman mengenai nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam budaya Minangkabau," kata Mak Katik.

Mak Katik sendiri dikenal sebagai budayawan, seniman, dan pengajar senior Minangkabau yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada pelestarian Randai, sastra lisan, silek, pantun, dan falsafah adat Minangkabau.

Enam Maestro di Enam Lokasi Berbeda

Selain Mak Katik di Padang Panjang, program BBM 2026 juga menghadirkan lima maestro lainnya di berbagai daerah. Jatnika Nanggamiharja sebagai Maestro Kriya Bambu di Bogor, Jaja Miharja (Ayah Jaja) sebagai Maestro Lenong Betawi di DKI Jakarta, I Gusti Nengah Nurata sebagai Maestro Lukis di Surakarta, Sulistyo Tirtokusumo sebagai Maestro Tari Bedhaya di DKI Jakarta, serta Ahmad Tohari sebagai Maestro Sastra di Banyumas.

Peserta BBM 2026 berasal dari berbagai perguruan tinggi dengan latar belakang pendidikan yang beragam, didominasi oleh mahasiswa di bidang seni dan budaya. Keberagaman tersebut juga tercermin dari asal daerah peserta yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan.

Pelepasan peserta dilaksanakan secara serentak pada Rabu (15/7) di lokasi pembelajaran masing-masing maestro. Melalui program ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan kebudayaan Indonesia dengan memastikan api pengetahuan para maestro terus menyala di tangan generasi penerus.

Reporter: Maruli Sinaga
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top