SUMATERA BARAT — Keputusan untuk merampingkan struktur ini bukan sekadar pengurangan jumlah anak usaha. Manajemen menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan jauh lebih dalam dari perubahan struktur organisasi semata.
"Transformasi bukan soal mengubah struktur," demikian pernyataan resmi manajemen yang dikutip dalam keterangan pers. Pernyataan ini menekankan bahwa esensi perubahan ada pada cara kerja, budaya perusahaan, dan efektivitas operasional di lapangan.
Pemangkasan dari 67 menjadi 33 entitas merupakan bagian dari arahan Kementerian BUMN untuk menciptakan holding yang lebih fokus. Portofolio bisnis yang terlalu lebar dinilai membuat alokasi modal tidak optimal dan biaya operasional membengkak.
Dengan struktur yang lebih ramping, Telkom dapat memprioritaskan investasi pada layanan inti seperti telekomunikasi, infrastruktur digital, dan pusat data. Anak usaha yang tidak lagi sejalan dengan arah bisnis utama akan dilebur, dijual, atau dihentikan operasinya.
Efisiensi ini diharapkan berdampak langsung pada harga layanan dan kualitas produk. Dengan biaya operasional yang lebih terkendali, Telkom memiliki ruang untuk meningkatkan kualitas jaringan tanpa harus membebankan kenaikan tarif kepada pelanggan.
Bagi investor, struktur yang ramping biasanya menjadi sinyal positif karena meningkatkan transparansi dan akurasi laporan keuangan. Arus kas dari anak usaha yang dijual atau dilebur juga bisa dialihkan untuk pembayaran dividen atau ekspansi bisnis digital.
Langkah ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan telekomunikasi besar dunia juga melakukan simplifikasi bisnis untuk bersaing dengan perusahaan teknologi murni.
Setelah perampingan, Telkom dipastikan akan semakin agresif menggarap segmen digital. Area seperti komputasi awan, keamanan siber, dan layanan data enterprise menjadi prioritas karena pertumbuhannya jauh lebih tinggi dibanding bisnis telepon tradisional.
Perusahaan juga akan lebih leluasa menjalin kemitraan strategis karena struktur holding yang lebih sederhana memudahkan proses negosiasi dan integrasi dengan mitra global.
Langkah Telkom ini menjadi bagian dari gelombang transformasi BUMN yang lebih luas. Beberapa perusahaan pelat merah lain juga melakukan efisiensi serupa untuk menghadapi tekanan ekonomi global dan perubahan perilaku konsumen yang cepat.
Keberhasilan transformasi ini akan menjadi tolok ukur apakah BUMN Indonesia mampu beradaptasi dengan era ekonomi digital yang menuntut kecepatan dan fleksibilitas.