PADANG — DHD BPK 45 Sumatera Barat tidak hanya menggelar lomba baca puisi. Organisasi ini juga mengajak pelajar menuturkan kembali kisah perjuangan bangsa lewat Lomba Story Telling Perjuangan yang diikuti 27 peserta. Kegiatan ini menjadi rangkaian Bakti Kemerdekaan Angkatan 45 dalam memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.
Ketua Panitia Fajar Rusvan mengatakan, perlombaan yang digelar secara virtual melalui rekaman video ini memungkinkan pelajar dari berbagai daerah di Sumatera Barat berpartisipasi tanpa harus datang ke Padang. "Selain itu panitia juga melaksanakan Lomba Baca Puisi Perjuangan untuk siswa SLTA se-Sumbar yang dilakukan secara virtual melalui rekaman video di media sosial," ujarnya didampingi Sekretaris Panitia Gusfen Khairul.
Dewan juri yang terdiri atas Yeyen Kiram, Nasrul Azwar, dan Marshaleh Adaz menilai peserta dari empat aspek. Penghayatan menjadi unsur terbesar dengan bobot 40 persen, meliputi pemahaman isi puisi, kemampuan membangun suasana dan emosi, serta kedalaman interpretasi.
Ekspresi dan vokal memiliki bobot 30 persen, kesesuaian pembacaan dengan teks asli 20 persen, dan penampilan 10 persen. Para peserta harus membawakan puisi secara utuh tanpa mengubah, menambah, mengurangi, atau mengganti kata dari naskah asli.
Lima puisi diperlombakan, yakni "Kerawang Bekasi" karya Chairil Anwar, "Lagu Seorang Gerilya" karya W.S. Rendra, "Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini" karya Taufiq Ismail, "Pahlawan Tak Dikenal" karya Toto Sudarto Bachtiar, dan "Bunga dan Tembok" karya Wiji Thukul.
Annisha Abqory Bais dari SMAN 1 Solok meraih juara kedua melalui puisi "Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini" karya Taufiq Ismail. Sementara Ghina Syafa Muthmainnah dari SMA Negeri 2 Padang Panjang menempati posisi ketiga dengan puisi yang sama.
Selain tiga juara utama, dewan juri memilih tujuh video pilihan. Mereka adalah Hanifah Hasnaini dari SMAS Adabiah 1 Padang, Rehan Pratama dari MAN 2 Padang, Zahra Aulia Ramadhani dari SMAN 2 Bukittinggi, Dhaifina Annisa Awatif dari MAN 5 Agam, Derhifveallind Annalla dari SMAN 1 Lareh Sago Halaban, M. Rahel Maulana dari SMAN 11 Padang, dan Naura Khairunnisah dari SMAN 1 Payakumbuh.
Pada Lomba Story Telling Perjuangan, Atika Arza Wijaya dari MAN 2 Padang menjadi juara pertama dengan cerita mengenai Bagindo Azizchan, Wali Kota Padang yang gugur ditembak Belanda. Atika memilih sosok tersebut karena melihatnya sebagai guru sekaligus pejuang yang berani mempertahankan kemerdekaan.
Juara kedua diraih Meisya Sri Mulyani dari MAS Ponpes Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dengan cerita Buya Hamka Tahun 1947. Adapun Atiqah Meidina El Ihsani Parinduri dari SMA IT IC Payakumbuh meraih juara ketiga dengan cerita Subuh Terakhir di Situjuah.
Dewan juri yang terdiri atas Dr. Piki S. Pernantah, Fikrul Hanif, dan Zusnelly Zubir juga menetapkan tujuh pemenang harapan, termasuk Davina Damia Warningsih dari SMA Praja Nusantara Sumbar.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar Arry Yuswandi mengapresiasi keterlibatan pelajar dalam kegiatan ini. "Ternyata jika diajak, generasi muda dapat memahami nilai kejuangan 45 dengan baik dan dapat menuturkan dengan baik pula," kata Arry saat memberikan sambutan di Gedung Joeang 45 Sumbar, Jalan Samudera, Padang.
Menurut Arry, kegiatan tersebut membuktikan pemahaman generasi muda terhadap sejarah perjuangan bangsa masih dapat dikembangkan melalui pendekatan kreatif yang sesuai dengan dunia mereka. Pilihan tema yang dibawakan peserta, mulai dari Bagindo Azizchan, Buya Hamka, hingga peristiwa Subuh Terakhir di Situjuah, menunjukkan ketersebaran pelajar yang memiliki pemahaman baik tentang sejarah.
Sepuluh besar pemenang lomba baca puisi diundang ke Padang untuk tampil pada puncak acara Bakti Kemerdekaan 45. Hal ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan mereka di hadapan publik secara langsung.