SUMATERA BARAT — Angka pemesanan tersebut diumumkan langsung oleh Freelander melalui laporan CNEVPost, menandai awal yang kuat bagi SUV premium ini di pasar China. Padahal, persaingan di segmen luxury SUV di Negeri Tirai Bambu sangat ketat, dengan banyak pemain baru yang berlomba menawarkan teknologi dan kemewahan.
Menariknya, meski baru debut di China, merek ini sudah menargetkan ekspansi global. Langkah ini menjadi strategi JLR untuk menyaingi dominasi pabrikan Jerman seperti BMW, Mercedes-Benz, dan Audi di pasar Eropa dan Amerika Utara.
Freelander 8 pertama kali diperkenalkan pada Maret lalu. Secara visual, SUV ini tampil beda dari generasi pendahulunya dengan garis bodi kotak yang tegas, mengingatkan pada Freelander klasik, namun dibalut proporsi modern ala mobil konsep. Pendekatan desain ini diyakini menjadi daya tarik utama bagi konsumen Barat yang mencari identitas berbeda di tengah deretan SUV Jerman yang seragam.
Untuk pasar China, JLR menambahkan berbagai fitur kemewahan yang tidak umum ditemui di SUV Eropa. Kabinnya mengusung kursi kapten baris kedua dengan fitur "zero gravity" yang bisa direbahkan, dilengkapi pemanas, ventilasi, dan fungsi pijat. Ada pula meja ala pesawat terbang, kulkas mini, serta lampu suasana LED yang bisa diatur.
Soal performa, Freelander 8 tidak main-main. SUV ini mengandalkan mesin bensin 1.500 cc turbocharged yang berfungsi sebagai range extender, dipadukan dengan baterai berkapasitas 60,3 kWh. Total tenaga yang dihasilkan mencapai 610 kW atau setara 815 hp, yang disalurkan ke kedua as roda melalui sepasang motor listrik.
Dengan tenaga sebesar itu, Freelander 8 mampu melesat dari 0-100 km/jam dalam waktu kurang dari 4,5 detik. Angka ini menempatkannya sejajar dengan SUV performa tinggi dari pabrikan Eropa yang harganya jauh lebih mahal.
Seluruh varian Freelander 8 sudah dilengkapi sistem bantuan mengemudi canggih bernama Qiankun ADS 5 yang dikembangkan Huawei. Sistem ini ditenagai chip Snapdragon 8397 besutan Qualcomm, yang mengolah data dari radar, LiDAR, dan kamera visual untuk menjaga SUV tetap berada di tengah jalur secara otomatis.
Kombinasi teknologi ini membuat Freelander 8 tidak hanya unggul dalam hal kemewahan, tetapi juga siap bersaing di era mobil otonom. Meski demikian, JLR belum merinci berapa banyak dari 10.000 pemesanan tersebut yang berstatus non-refundable. Di pasar China, angka pre-order kerap kali didasarkan pada deposit yang bisa dikembalikan, sehingga angka pengiriman aktual bisa berbeda.
JLR belum mengumumkan pasar internasional berikutnya untuk Freelander 8. Namun, analis memperkirakan Kanada dan daratan Eropa menjadi kandidat terkuat, mengingat permintaan SUV premium di kawasan tersebut masih tinggi. Jika benar, kehadiran Freelander 8 akan menjadi ujian nyata apakah desain retro dan fitur kemewahan ala China bisa diterima konsumen Barat yang selama ini loyal pada merek Jerman.