LUBUK BASUNG — Proses evakuasi harimau sumatera bernama Puti Batuah berlangsung dramatis. Tim gabungan yang terdiri dari BKSDA Sumbar, Tim Patroli Anak Nagari (Pagari), Polsek Palupuh, dan warga setempat mengevakuasi satwa tersebut dengan cara ditandu menggunakan kain sarung. Jarak tempuh mencapai 500 meter dari lokasi kandang jebak di tengah perkebunan menuju pemukiman. Jalur yang dilalui disebut cukup kecil dan memiliki turunan terjal.
Sebelum evakuasi, dokter hewan BKSDA Sumbar memberikan obat bius dengan cara ditembak menggunakan sumpit. Setelah harimau tertidur, petugas langsung memindahkannya ke mobil BKSDA dan membawanya ke kantor Seksi Wilayah I di Kota Bukittinggi. Proses evakuasi dari lokasi hingga ke kantor selesai sekitar pukul 16.00 WIB. Selanjutnya, harimau dibawa ke Kebun Binatang Kota Sawahlunto untuk menjalani observasi kesehatan.
Harimau Masuk Perangkap, Kawannya Terlihat Menunggu di Luar
Kandang jebak besi berukuran panjang 180 sentimeter dan lebar 90 centimeter itu baru dipasang pada Rabu (20/5). Dua hari kemudian, Jumat pukul 02.30 WIB, harimau masuk perangkap. Saat tim tiba di lokasi sekitar pukul 09.30 WIB, pintu kandang sudah tertutup.
Momen unik terjadi ketika tim mendekati kandang. Anggota Pagari, Baringin Adeka, melaporkan melihat satu individu harimau lain berada di luar kandang, sekitar 30 meter dari lokasi. “Harimau terlihat sedih melihat kawannya sedang berada di dalam kandang dan pergi masuk ke semak-semak akibat kami ada di sekitar kandang,” ujarnya. Hasil kamera trap menunjukkan harimau itu telah berada di sekitar kandang untuk menemani kawannya yang terperangkap.
Konflik Sepanjang Tiga Kecamatan Selama 21 Hari
Penanganan interaksi negatif antara harimau dan manusia ini telah berlangsung sejak 2 Mei 2026. Pemicunya adalah insiden di Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, ketika sepasang suami istri didekati harimau tersebut di kebun mereka. Sejak saat itu, tim BKSDA terus mengiringi pergerakan satwa yang oleh tokoh masyarakat setempat diberi nama Puti Batuah.
Selama 21 hari, harimau berpindah lokasi setidaknya di tiga kecamatan: Palembayan, Matur, dan Palupuh. Tim sempat memasang tiga unit kandang jebak—satu di Taruyan, satu di Koto Rantang, dan satu di Batang Palupuh. Namun, baru kandang jebak di Batang Palupuh yang berhasil menjerat harimau tersebut.
“Sudah 21 hari kita mengiringi harimau yang diberi nama Puti Batuah oleh tokoh masyarakat Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam,” kata Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, kepada petugas dan masyarakat yang hadir.
Ratusan Warga Antusias Saksikan Evakuasi
Evakuasi yang dilakukan usai Shalat Jumat itu menarik perhatian warga. Ratusan orang berdatangan ke lokasi untuk menyaksikan langsung proses evakuasi harimau langka tersebut. Banyak di antaranya mengabadikan momen itu menggunakan ponsel mereka. Setelah evakuasi berhasil, tim BKSDA dan Yayasan Sintas Indonesia terus memantau kondisi di Batang Palupuh untuk mengantisipasi kemunculan individu harimau lainnya.