SUMATERA BARAT — Festival dua hari itu menyatukan olahraga, kuliner tradisional, dan pameran produk herbal dalam satu lokasi. Penyelenggara menggandeng BPOM RI, Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu), Kementerian Ekonomi Kreatif, serta produsen minuman herbal seperti Larutan Penyegar Cap Badak untuk memperkuat edukasi publik.
Dari Jamu Gendong ke Kafe Herbal: Transformasi Industri Pasca-UNESCO
UNESCO menetapkan jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia pada Desember 2023. Status itu mendorong perubahan signifikan dalam cara produk ini dipasarkan. Jika dulu identik dengan jamu gendong yang dijajakan keliling, kini jamu tersedia dalam bentuk minuman siap minum, sachet, kapsul, hingga hadir di kafe-kafe khusus herbal.
Ketua Umum GP Jamu Jony Yuwono mengatakan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memperluas edukasi dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. "Melalui Acaraki Jamu Festival, kami berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk ikut melestarikan dan mengembangkan warisan budaya jamu Indonesia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6).
Biodiversitas 30.000 Spesies Tanaman Jadi Modal Besar
Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tanaman dari total 40.000 spesies yang tercatat secara global. Sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan ramuan herbal secara turun-temurun. Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar menilai kekayaan biodiversitas dan pengetahuan tradisional itu menjadi modal besar untuk pengembangan jamu.
"Acaraki Jamu Festival menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat kembali mengenal dan mencintai jamu sebagai warisan budaya Indonesia yang telah diwariskan lintas generasi," kata Taruna.
Menurut dia, jamu tidak hanya bernilai kesehatan tetapi juga berpotensi mendukung gaya hidup sehat sekaligus memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional. Industri herbal nasional dinilai masih memiliki ruang tumbuh besar jika standardisasi mutu dan keamanan produk diperkuat.
Lari Santai hingga Parade Jamu Gendong: Cara Baru Dekati Generasi Muda
Festival ini menyediakan kegiatan olahraga seperti lari santai, jalan sehat, yoga, zumba, dan poundfit. Pengunjung juga bisa menikmati pameran jamu, kuliner tradisional, produk UMKM, permainan tradisional, parade jamu gendong, hingga konser musik keluarga.
Penyelenggara berharap masyarakat semakin memahami bahwa jamu tidak hanya dikonsumsi saat sakit, tetapi dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Dengan pemahaman tersebut, budaya jamu diharapkan terus berkembang dan mendukung ekonomi herbal nasional.