SUMATERA BARAT — Tekanan di Piala Dunia 2026 terbukti kejam sejak dini. Tiga pelatih dari tiga benua berbeda kehilangan jabatan mereka sebelum turnamen memasuki babak gugur. Federasi Sepak Bola Tunisia menjadi yang paling cepat bereaksi, memecat Sabri Lamouchi hanya berselang beberapa jam setelah laga pembuka Grup F.
Sabri Lamouchi Dipecat Usai Tunisia Dihancurkan Swedia
Kekalahan telak 1-5 dari Swedia pada pertandingan pertama Grup F menjadi titik akhir perjalanan Lamouchi. Federasi Tunisia tidak mau menunggu. Mereka bergerak cepat, menilai margin empat gol sebagai indikator bahwa tim tidak siap bersaing di level tertinggi.
Keputusan ini terbilang radikal. Turnamen baru berjalan satu pertandingan, dan Tunisia masih memiliki dua laga tersisa untuk memperbaiki posisi. Namun federasi memilih tidak memberi kesempatan kedua.
Steve Clarke Pilih Mundur, Akhiri Proyek Tujuh Tahun Skotlandia
Berbeda dengan Lamouchi, Steve Clarke mengambil kendali atas nasibnya sendiri. Pelatih berusia 61 tahun itu mengundurkan diri setelah Skotlandia gagal melangkah ke babak 32 besar. Ia menyampaikan keputusan itu melalui surat terbuka untuk pendukung Tartan Army.
Skotlandia sebenarnya sempat memberi harapan. Kemenangan tipis 1-0 atas Haiti membuat peluang lolos masih terbuka. Namun dua kekalahan beruntun dari Maroko dan Brasil memupus semuanya. Mereka tersingkir karena kalah dalam perhitungan peringkat ketiga terbaik, dengan selisih gol sebagai faktor penentu.
Bagi Clarke, kegagalan ini mengakhiri proyek panjang yang ia bangun sejak 2019. Keputusannya mundur dianggap sebagai bentuk tanggung jawab dan sikap ksatria.
Hong Myung-bo Mundur, Legenda Korea Selatan Ambil Tanggung Jawab Penuh
Hong Myung-bo melengkapi daftar pelatih yang kehilangan pekerjaan di Piala Dunia 2026. Mantan kapten timnas Korea Selatan itu mengumumkan pengunduran diri tak lama setelah Taegeuk Warriors tersingkir di fase grup.
Perjalanan Korea Selatan di Grup A tidak mulus. Kekalahan dari Meksiko dan Afrika Selatan membuat peluang lolos menipis. Mereka finis di posisi ketiga, tetapi hasil itu tidak cukup untuk membawa mereka ke fase gugur melalui jalur peringkat ketiga terbaik.
Hong menyatakan dirinya bertanggung jawab penuh atas kegagalan tim memenuhi ekspektasi publik. Sikap ini mendapat apresiasi karena ia tidak mencari kambing hitam atau alasan lain.
Nasib Berbeda, Satu Kesamaan: Piala Dunia Tak Memberi Ampun
Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa kursi pelatih adalah posisi paling rapuh di turnamen sebesar ini. Sabri Lamouchi dipecat federasi, sementara Steve Clarke dan Hong Myung-bo memilih mundur atas kemauan sendiri. Tiga latar belakang berbeda, satu kesamaan: perjalanan mereka berakhir lebih cepat dari yang direncanakan.
Pertanyaannya sekarang, akankah daftar ini bertambah? Sejarah mencatat hampir setiap edisi Piala Dunia menghadirkan drama pergantian pelatih. Dan di edisi 2026, drama itu sudah dimulai bahkan sebelum babak gugur dimainkan.