LIMA PULUH KOTA — Isolasi geografis yang membelenggu dua jorong di Lembah Harau mulai terurai. Selama puluhan tahun, warga Jorong Buluh Kasok dan Aia Putiah di Nagari Sarilamak harus menempuh medan berat yang dikelilingi tebing granit purba untuk memenuhi kebutuhan dan menyekolahkan anak. Kini, TMMD ke-129 tahun 2026 yang dipimpin Komandan Kodim 0306/50 Kota, Letkol Inf Adi Nofriadi Nata, menjadi titik balik.
Membelah Tebing Granit: Jalan 2,7 Km dengan Progres 52 Persen
Pengerjaan infrastruktur di wilayah ini bukan proyek pembangunan biasa. Kontur perbukitan melengkung dan batuan cadas keras memaksa personel TNI bekerja berdampingan dengan alat berat di lereng terjal. Ekskavator kuning terlihat menggerudi tanah liat dan memindahkan material di bawah pengawasan ketat prajurit loreng yang bersiaga di sisi tebing.
“Frase ‘Membelah Harau’ dalam TMMD ini bukan kiasan sastra, melainkan realitas fisik yang harus dihadapi setiap hari,” demikian narasi dalam laporan kegiatan. Hingga saat ini, badan jalan utama sepanjang 2.700 meter dengan lebar 7 meter mencapai progres 52 persen. Tim Satgas juga melakukan penurunan elevasi jalan sepanjang 400 meter yang kini mencapai 27 persen, guna memangkas kemiringan lereng ekstrem agar aman dilalui kendaraan pengangkut hasil bumi.
Letkol Adi: Dari Markas ke Lumpur, Memimpin dari Garis Depan
Gaya kepemimpinan Letkol Adi Nofriadi Nata menjadi motor penggerak utama. Ia tidak memberikan komando dari balik meja kerja di markas, melainkan turun langsung ke lapangan. Debu merah Harau menutupi wajah dan seragam lorengnya, sementara lumpur menggenang di antara selipan sepatu bot dan bau khas tanah liat yang baru digali.
“Langkah kakinya yang mantap menyusuri lahan tanah merah yang masih hangat dipanggang panas matahari, diapit tebing curam sisa galian, menjadi pesan diam kepada setiap prajurit: tidak ada rintangan alam yang tidak bisa ditembus oleh niat tulus dan kerja keras,” tulis laporan Satgas TMMD. Kehadirannya di lokasi menjadi energi bagi personel dan warga yang bergotong royong setiap hari.
Harapan Baru bagi Warga yang Terisolasi Puluhan Tahun
Bagi masyarakat Jorong Buluh Kasok dan Aia Putiah, jalan ini bukan sekadar infrastruktur. Ini adalah jalur kehidupan yang telah mereka nantikan sejak Indonesia merdeka. Medan yang menantang selama ini menjadi penghalang utama untuk mengakses pendidikan yang lebih baik dan memasarkan hasil bumi.
Dengan selesainya jalan ini nanti, kendaraan pengangkut hasil bumi milik warga setempat bisa melintas dengan aman dan nyaman. TMMD ke-129 menjadi bukti kolaborasi erat antara tentara dan masyarakat, meretas selubung isolasi yang selama puluhan tahun membelenggu dua kampung di tengah hamparan alam Harau yang eksotis.