PADANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk Kota Padang. Lembaga tersebut memprakirakan wilayah ibu kota Provinsi Sumatera Barat ini akan dilanda kondisi asap atau kabut pada Jumat.
Peringatan ini menjadi perhatian bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan, terutama mereka yang memiliki gangguan pernapasan. Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di Mataram dan Sorong pada hari yang sama.
Bibit Siklon Tropis 94W Jadi Pemicu Utama
Prakirawan BMKG Ina Indah menjelaskan, bibit Siklon Tropis 94W terpantau di Samudra Pasifik utara Papua Barat. Siklon ini bergerak ke arah barat dengan kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan udara minimum 1.008 mb.
"Keberadaan bibit siklon tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di wilayah Laut Filipina dan di sekitar pusat bibit siklon," ujar Ina Indah dalam keterangan resminya.
Pola angin ini turut memengaruhi pembentukan awan di sebagian besar wilayah Indonesia, dari Pulau Sumatera hingga Papua.
Wilayah Lain Berpotensi Hujan Ringan
Dampak bibit siklon tidak hanya dirasakan di Sumatera Barat. BMKG memprakirakan hujan ringan bakal mengguyur sejumlah kota besar, di antaranya Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Bandung, dan Palu.
Kondisi cerah berawan hingga berawan tebal diprediksi terjadi di Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Ambon. Sementara itu, udara kabur berpotensi menyelimuti Bengkulu, Yogyakarta, dan sekitarnya.
Imbauan untuk Masyarakat Padang
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui laman resmi maupun kanal media sosial resmi lembaga tersebut. Hal ini penting untuk mengantisipasi potensi cuaca yang dapat mengganggu aktivitas harian.
Peringatan ini juga menjadi pengingat bagi warga untuk menyiapkan masker atau alat pelindung diri lainnya. Langkah tersebut dinilai efektif untuk mengurangi risiko kesehatan saat kondisi asap atau kabut melanda.
El Nino dan IOD Positif Memperparah Kondisi
Sebelumnya, BMKG memprediksikan fenomena El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama tahun 2027. Peluang puncak intensitasnya diprediksi mencapai kategori kuat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan, fenomena tersebut berpotensi dibarengi dengan munculnya kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026. Kombinasi ini memicu kemarau yang lebih kering dari kondisi normal.
"Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, dimana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal," kata dia.
Pemerintah pun mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah strategis untuk memitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ancaman kekeringan. Pelaksanaan OMC diprioritaskan pada wilayah yang membutuhkan pasokan curah hujan lebih tinggi untuk menjaga kelembapan lahan esensial, khususnya mineral dan gambut.