PADANG PANJANG — Pementasan itu menjadi ajang unjuk hasil pembelajaran, sekaligus pengalaman budaya yang diperoleh para peserta selama menjalani proses kreatif di lingkungan asal randai tumbuh. Para mahasiswa tidak sekadar mempelajari teknik gerak, musik, dan dialog, tetapi juga menyerap nilai serta filosofi hidup masyarakat Minangkabau yang melekat dalam kesenian itu.
Peserta dari Aceh hingga Yogyakarta
Program BBM mempertemukan mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala Aceh, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Medan, ISI Yogyakarta, dan ISI Padangpanjang. Mereka tinggal dan belajar langsung di tengah komunitas budaya Minangkabau selama sebulan penuh.
Keterlibatan mahasiswa dari luar Sumatera Barat dinilai menunjukkan bahwa randai masih punya daya tarik kuat bagi generasi muda. Pengalaman belajar di lokasi asal kesenian itu berkembang membantu peserta memahami randai secara lebih utuh, bukan hanya dari sisi pertunjukan.
Mak Katik: Peserta Jadi Duta Budaya
Mak Katik berharap para peserta yang telah mengikuti program ini dapat menjadi duta budaya yang memperkenalkan dan melestarikan randai di berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara. Ia juga mendorong Desa Wisata Kubu Gadang terus berkembang sebagai ruang pertunjukan seni dan budaya.
"Kita ingin randai tidak sekadar bertahan sebagai warisan budaya Minangkabau, tetapi juga berkembang dan dikenal lebih luas," ujar Mak Katik.
Randai Sarana Pendidikan Karakter
Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra mengapresiasi pelaksanaan program BBM yang dinilai penting bagi keberlangsungan seni tradisi. Menurutnya, randai bukan hanya seni pertunjukan, melainkan juga sarana pendidikan karakter yang sarat nilai kebersamaan, disiplin, dan kearifan lokal.
"Kekuatan randai tidak hanya terletak pada gerak, musik, dialog, dan alur pertunjukan, tetapi juga pada pesan moral serta nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya," katanya.
Allex berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh mahasiswa di Padang Panjang dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan randai ke masyarakat di daerah asal masing-masing.
Belajar Langsung Maestro Beri Pengalaman Berbeda
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sumatera Barat Nurmantias menyebut belajar langsung bersama maestro memberikan pengalaman yang berbeda dibanding pembelajaran teoritis di kelas. Peserta menjalani proses kreatif, disiplin latihan, dan memahami konteks budaya yang melahirkan kesenian randai.
Pementasan di Kubu Gadang turut disaksikan Nurmantias, tokoh masyarakat, undangan, serta warga setempat. Kegiatan ini menjadi bagian dari pewarisan seni tradisi kepada generasi muda sekaligus membuka peluang agar randai semakin dikenal di luar Sumatera Barat.