PADANG PARIAMAN — Pembentukan tim terpadu diputuskan setelah BMKG memastikan tidak ada titik api di wilayah Sumbar. Data dasbor lembaga itu menunjukkan asap yang menutupi langit provinsi berasal dari Sumatera Selatan dan Jambi. Pergerakan angin membawa polutan dari kedua provinsi tetangga itu masuk ke Sumbar.
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukittinggi, Dr. Sugeng Nugroho, menjelaskan arah angin menjadi penyebab utama. Kualitas udara di sejumlah titik Sumbar pun masuk kategori parah selama beberapa hari terakhir.
Dharmasraya, Sijunjung, dan Solok Selatan Jadi Prioritas Pengawasan
Vasko menaruh atensi tinggi pada tiga daerah beriwayat rawan karhutla: Dharmasraya, Sijunjung, dan Solok Selatan. Perhatian khusus diarahkan ke temuan Bupati Dharmasraya soal lahan bekas terbakar yang kini dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit.
Indikasi kesengajaan itu membuat Wagub memerintahkan Dinas Kehutanan menggandeng kepolisian. Investigasi diminta berjalan mendalam, bukan sekadar penelusuran administratif.
"Jangan-jangan ada oknum yang sengaja bermain di sini. Saya minta Dinas Kehutanan segera berkoordinasi dengan kepolisian untuk menindaklanjuti temuan tersebut," kata Vasko.
Tim Lintas Sektor Fokus pada Tiga Pilar Penanganan
Tim terpadu yang dibentuk mencakup BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, dan Dinas Kesehatan. Tugasnya melakukan pemantauan berkala sekaligus menyiapkan langkah mitigasi dampak kesehatan bagi warga yang terpapar polusi udara.
Pemprov Sumbar memfokuskan penanganan pada tiga pilar utama. Pertama, pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Kedua, percepatan respons terhadap penurunan kualitas udara. Ketiga, kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana cuaca ekstrem di penghujung tahun.
Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Decky Irmawan, mengingatkan warga agar tetap waspada terhadap transisi cuaca menjelang akhir tahun. Peningkatan intensitas hujan dinilai tidak boleh membuat masyarakat lengah.
"Hujan tidak serta-merta menghilangkan potensi kebakaran. Di sisi lain, curah hujan tinggi juga berisiko memicu bencana hidrometeorologi," ungkap Decky.
Untuk sementara, warga di daerah terdampak diminta mengurangi aktivitas luar ruang saat kualitas udara memburuk. Dinas Kesehatan menyiapkan langkah mitigasi kesehatan menyusul instruksi Wagub.