BUKITTINGGI — Di tengah ancaman bencana yang mengintai kawasan Sumatera Barat, Pemerintah Kota Bukittinggi memilih jalur radio sebagai tulang punggung komunikasi darurat. Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) bersama DPRD setempat, mereka menggelar bimbingan teknis bagi 31 anggota RAPI pada Senin lalu.
Kepala Diskominfo Kota Bukittinggi, Asrar Fernando, menyebut radio bukan lagi sekadar alat komunikasi usang. Justru di era digital ini, perangkat berbasis frekuensi 142 MHz menjadi andalan saat menara BTS dan jaringan seluler kolaps.
“Ketika sinyal seluler terganggu, kemacetan terjadi atau bencana datang, komunikasi radio melalui frekuensi 142 MHz sering menjadi harapan pertama dalam penyampaian informasi yang cepat dan akurat,” kata Asrar dalam keterangannya.
Bimtek ini tidak hanya berisi teori. Narasumber dari Balmon Kelas II A Padang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, dan pengurus RAPI Sumatera Barat turun langsung memberikan materi teknis dan pemahaman regulasi.
Peserta juga dibekali etika komunikasi agar informasi yang disebar saat darurat tidak menimbulkan kepanikan. “Diharapkan, melalui bimtek ini anggota RAPI Bukittinggi semakin profesional, solid dan siap bersinergi dengan BPBD, Polres, Dishub serta seluruh OPD,” ujar Asrar.
Kegiatan ini lahir dari Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPRD Kota Bukittinggi, Dewi Anggraini. Ia menilai penguatan kapasitas organisasi komunikasi warga seperti RAPI adalah investasi jangka panjang dalam sistem peringatan dini bencana.
“Keberadaan RAPI memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah, terutama dalam mendukung komunikasi sosial, kegiatan kemasyarakatan hingga penanganan kebencanaan di tengah masyarakat,” kata Dewi.
Peningkatan kapasitas ini juga menjadi persiapan menghadapi peringatan 100 Tahun Jam Gadang dan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 pada 2026. Saat ribuan pengunjung memadati kota, koordinasi antara petugas di lapangan menjadi krusial.
Dengan 31 anggota yang telah terlatih, Pemkot Bukittinggi berharap RAPI bisa menjadi simpul komunikasi yang menghubungkan posko bencana, pusat evakuasi, dan masyarakat di titik-titik rawan. Sebab, dalam situasi darurat, detik pertama penyampaian informasi bisa menentukan nyawa.