PADANG — Pesawat tempur angkut milik militer Amerika Serikat itu mendarat di BIM pada Senin (25/5/2026) sekitar pukul 17.56 WIB. Pendaratan darurat dipicu oleh kerusakan pada mesin nomor 3 saat pesawat dalam perjalanan dari Singapura menuju pangkalan militer Diego Garcia di Maladewa.
Begitu mendarat, otoritas bandara langsung bergerak cepat. Koordinasi dilakukan dengan TNI Angkatan Udara, Kementerian Pertahanan (Kemenhan), dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) di pusat untuk mengurus security clearance.
Pemeriksaan keamanan bertujuan memastikan pendaratan murni karena kendala teknis, bukan pelanggaran wilayah atau agenda lain dari awak pesawat. Setelah dinyatakan aman, 15 kru diizinkan menunggu di Kota Padang selama perbaikan berlangsung.
Proses perbaikan ternyata memakan waktu lebih dari sepekan. Penyebabnya, suku cadang mesin pengganti harus dikirim langsung dari luar negeri. "Spare part beserta tim mekanik khusus baru tiba di Padang pada Minggu (31/5/2026) menggunakan pesawat komersial dari Singapura," kata Dony kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2026).
Begitu suku cadang tiba, proses perbaikan langsung dikejar hingga malam hari. Tim hanggar melakukan run up atau pengujian menghidupkan mesin di darat untuk memastikan mesin nomor 3 berfungsi normal.
Setelah tidak ditemukan kendala teknis lain, uji terbang (test flight) langsung dilaksanakan pada Senin (1/6/2026). "Uji terbang dilakukan di atas perairan barat Kota Padang selama kurang lebih satu jam," tutur Dony.
Dengan rampungnya uji terbang, pesawat militer AS tersebut dinyatakan laik terbang dan dapat melanjutkan perjalanan ke pangkalan militernya di Diego Garcia. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi lebih lanjut mengenai keberangkatan pesawat dari BIM.