Di antara hiruk-pikuk tren wajan antilengket yang silih berganti—dari Teflon yang ditinggalkan karena asap beracun hingga keramik yang cepat kehilangan kemampuannya—stainless steel justru diam-diam menjadi fondasi dapur yang paling bisa diandalkan. Material ini lebih ringan dari besi cor, tidak serumit karbon steel, dan tidak perlu dirawat seperti barang antik.
Kenangan akan demo toko masak di mal pada era 1980-an, di mana telur dadar meluncur mulus dari wajan Teflon, kini tinggal kenangan. Industri perlahan meninggalkan Teflon karena risiko asap berbahaya saat suhu terlalu tinggi. Keramik yang menjadi penggantinya pun terbukti cepat kehilangan "sihir" antilengketnya.
Di sinilah stainless steel mengambil peran. "Mereka tahan lama, lebih ringan, dan tidak rewel seperti besi cor," tulis jurnalis yang melakukan pengujian. Meski tidak antilengket, satu sendok mentega sudah cukup untuk mengatasi masalah itu. Yang lebih penting, wajan ini dirancang untuk kerja keras selama puluhan tahun.
Untuk menguji klaim tersebut, sang jurnalis membandingkan wajan berukuran 10 inci dari All-Clad (model D3), Hestan, Viking (Pure Glide Pro), dan Heritage Steel. All-Clad, yang sudah lama menjadi standar emas, dijadikan patokan. Harganya 170 dolar AS (sekitar Rp 2,7 juta) dengan tutup, atau 150 dolar AS (Rp 2,4 juta) tanpa tutup.
Namun, hasilnya tidak semulus ekspektasi. All-Clad D3 yang dikirim untuk pengujian memiliki permukaan sedikit menggembung di tengah—fenomena yang disebut doming. Seorang perwakilan All-Clad mengakui bahwa kondisi itu masih dalam batas toleransi pabrik, tetapi sang jurnalis berbeda pendapat: "Saya suka wajan yang rata."
Masalah lebih parah ditemukan pada Viking Pure Glide Pro. Wajan anyar dengan lapisan titanium bertekstur ini datang dalam keadaan melengkung, sehingga minyak panas membentuk genangan di sekeliling pinggiran, bukan di tengah. "Jika Viking memperbaiki ini, Pure Glide Pro punya potensi menjadi wajan yang hebat," tulisnya, "tapi belum sekarang."
Alih-alih menyerah, sang jurnalis melakukan pendekatan metodis. Semua wajan diletakkan di atas kompor induksi yang sama dengan pengaturan panas yang identik—medium-low selama 3,5 menit. Sebuah feeler gauge digunakan untuk mengukur kelengkungan, sementara distribusi panas dicatat dalam spreadsheet.
Temuan penting: penggunaan burner yang sesuai dengan ukuran wajan sangat krusial. "Jika wajan Anda sesuai dengan ukuran burner, Anda akan jauh lebih bahagia," catatnya. Ini menjadi pengingat bahwa peralatan masak yang mahal sekalipun tidak akan bekerja optimal jika tidak dipasangkan dengan sumber panas yang tepat.
Pada akhirnya, meski All-Clad D3 masih menjadi pilihan solid berkat pemanasan yang merata dan pegangan yang nyaman, pengujian ini membuktikan bahwa tidak ada satu pun wajan yang sempurna. Bahkan merek legendaris pun bisa memiliki cacat produksi. Bagi konsumen Indonesia yang mulai beralih ke kompor induksi, pelajarannya jelas: jangan percaya begitu saja pada nama besar, dan pastikan untuk memeriksa kondisi wajan secara langsung sebelum membeli.