Pencarian

Sejarawan Nasional Anhar Gonggong: Julukan "Kota Perjuangan" untuk Bukittinggi Harus Punya Kekhasan, Bukan Sekadar Label

Sabtu, 20 Juni 2026 • 17:44:31 WIB
Sejarawan Nasional Anhar Gonggong: Julukan
Sejarawan Anhar Gonggong menegaskan Bukittinggi harus miliki kekhasan dalam gelar "Kota Perjuangan".

BUKITTINGGI — Gelar "Kota Perjuangan" yang tengah diperjuangkan untuk Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, tidak boleh berhenti sebagai slogan belaka. Sejarawan nasional, Prof. Anhar Gonggong, mengingatkan bahwa setiap kota di Indonesia memiliki riwayat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pertanyaan kuncinya, apa yang membuat Bukittinggi berbeda?

Kekhasan yang Tak Dimiliki Daerah Lain

"Bukittinggi sebagai kota perjuangan pasti benar untuk Bukittinggi dalam konteks waktu. Namun, harus ada kelanjutannya, agar Bukittinggi memiliki kekhasan yang tidak dimiliki daerah lain, saat masa mempertahankan kemerdekaan," kata Anhar di Balairung rumah dinas wali kota, Sabtu.

Menurut Anhar, jika diminta mendefinisikan, ia akan menyebut Bukittinggi sebagai "kota perjuangan dalam kenyataan kedaruratan Republik". Frasa inilah, katanya, yang menjadi pembeda fundamental dari kota-kota lain di Indonesia.

Dari Ibu Kota PDRI hingga Pusat Pemerintahan Darurat

Anhar menekankan bahwa nilai historis Bukittinggi tidak bisa dilepaskan dari perannya sebagai ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948. Saat Belanda melancarkan Agresi Militer II dan Yogyakarta jatuh, Bukittinggi menjadi pusat komando dan penyelamat eksistensi NKRI. "Saya tentu tidak mungkin menyalahi kenyataan sejarah, bahwa Bukittinggi memiliki sikap, memiliki kenyataan yang berbeda dengan daerah-daerah lain," tegasnya.

Fakta ini, lanjut Anhar, menjadi dasar kuat bagi Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, bersama tokoh masyarakat untuk memperjuangkan status daerah istimewa atau daerah khusus. Usulan itu bukan tanpa alasan. Selain menjadi ibu kota PDRI, Bukittinggi juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra, Sumatra Tengah, Sumatra Barat, dan tempat lahir proklamator Mohammad Hatta.

Mengapa Status Istimewa Diperjuangkan?

Anhar menyebut bahwa perjuangan ini bukanlah hal yang mustahil. "Papua sudah diberikan istimewa, apalagi Yogyakarta sebagai ibukota kedua. Sekali lagi saya katakan Bukittinggi adalah ibukota atau kota yang punya kekhasan," ujarnya.

Ia meminta Pemkot Bukittinggi untuk terus mendiskusikan dan merumuskan secara akademis apa yang menjadi keunikan kata "perjuangan" yang melekat pada kota tersebut. Hasil diskusi ini nantinya akan menjadi argumen kuat untuk diajukan kepada pemerintah pusat. "Khasnya ada dan tidak akan pernah ada yang menyamainya," pungkas Anhar.

Bagikan
Sumber: sumbar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks