Peneliti Ubah 2.000 HP Bekas Google Pixel Jadi Server Cloud, Kinerja Setara Perangkat Enterprise

Penulis: Bastian Sihombing  •  Kamis, 25 Juni 2026 | 08:53:31 WIB
Tim peneliti UCSD dan Google Research mengubah 2.000 HP Google Pixel bekas menjadi server cloud berkinerja tinggi.

SUMATERA BARAT — Bayangkan tumpukan HP lama yang menganggur di laci. Tim peneliti dari Google Research dan UCSD melihatnya sebagai potensi komputasi yang terbuang. Mereka mengumpulkan 2.000 unit Google Pixel bekas untuk diubah menjadi server.

Prosesnya bukan sekadar mencolokkan HP ke listrik. Setiap perangkat dibongkar total. Motherboard dikeluarkan, lalu baterai, layar, dan kamera dibuang. Sistem Android dihapus dan diganti dengan Linux agar bisa menjalankan tugas server.

“Setiap ‘server’ smartphone muat di rak data center standar,” kata Ryan Kastner, profesor computer science and engineering di UCSD, kepada CNET. “Kami masih menghitung kepadatan pastinya, tapi kami berencana menempatkan puluhan HP per rak.”

Performa Setara Server Mahal, Biaya Cuma Sebagian Kecil

Hasil uji coba mengejutkan. Menurut Google, klaster HP Pixel ini berkinerja lebih baik atau setidaknya setara dengan server rak profesional seperti Asus RS720A yang biasa dipakai di pusat data enterprise. Artinya, HP bekas bisa menjalankan beban kerja komputasi yang serius.

UCSD sudah membuktikan skalanya. Dua puluh unit Pixel cukup untuk mendukung satu kelas dengan lebih dari 75 mahasiswa. Dengan 2.000 unit, kampus bisa melayani 100 kelas secara bersamaan. Program computer science and engineering akan menjadi pengguna pertama.

“Dalam jangka panjang, kami membayangkan departemen lain juga bisa memindahkan kebutuhan komputasi mereka ke sistem ini,” ujar Kastner. Timnya sedang mengintegrasikan klaster HP bekas ini ke UCSD Data Science and Machine Learning Platform.

Keunggulan utamanya: biaya. Harga HP bekas dan waktu setup-nya hanya “sebagian kecil dari biaya normal” untuk daya komputasi server setara. UCSD berencana meluncurkan sistem ini pada semester gugur 2026.

Mengubah HP Jadi Server: Bukan Proses Sederhana

“Perangkat ini tidak pernah dirancang untuk menjalankan data center,” kata Kastner. “Itu artinya ada banyak hal menarik yang belum diketahui, plus kesulitan membuat hardware masuk ke lubang yang tidak pas.”

Salah satu masalah besar adalah sistem komunikasi nirkabel di setiap HP: Bluetooth, Wi-Fi, dan sinyal seluler. Jika dibiarkan menyala, sinyal-sinyal ini saling mengganggu dan menimbulkan risiko keamanan. Satu HP yang diretas bisa membocorkan data sensitif. Solusinya: semua radio dimatikan secara permanen.

Masalah lain adalah panas berlebih. Smartphone punya perlindungan konsumen untuk mencegah overheat, tapi perlindungan itu justru kontraproduktif di lingkungan server. Tim harus mencari dan menonaktifkan proteksi tersebut satu per satu — Kastner menyebutnya “mencari jarum di tumpukan jerami.”

Saat ini tim menggunakan pendingin standar data center seperti kipas dan heatsink. Mereka juga ingin menguji apakah suhu tinggi ini memengaruhi keandalan jangka panjang perangkat.

Solusi Kecil untuk Masalah E-Waste Besar

Limbah elektronik (e-waste) adalah masalah serius. Eksperimen UCSD ini menawarkan jalan keluar: alih-alih dibuang, HP bekas bisa diberi kehidupan kedua sebagai server komputasi.

Google menyatakan bahwa sebagian besar kebutuhan sekolah — mulai dari mengajar, menilai tugas, hingga riset — “masih dalam kemampuan satu smartphone untuk menampungnya.” Jika eksperimen UCSD berhasil, kampus-kampus di seluruh dunia bisa mengadopsi pendekatan serupa untuk menekan biaya infrastruktur TI.

UCSD sendiri akan terus mempelajari seberapa tahan komponen elektronik konsumen di lingkungan server yang lebih keras. Hasilnya baru akan diketahui setelah sistem berjalan penuh pada 2026.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: cnet.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top