SUMATERA BARAT — Tidak semua limbah pertanian bisa disulap menjadi biobriket berkualitas. Tim peneliti yang dipimpin oleh Prof Anny Sulaswatty menemukan bahwa sisa rimpang jahe dari proses hidrodistilasi memiliki kadar lignin mencapai 45,98 persen. Angka ini menjadi syarat krusial karena biomassa harus memiliki kandungan karbon minimal 40 persen agar layak diolah menjadi bahan bakar padat.
"Peningkatan produksi minyak atsiri seperti akar wangi, sereh wangi, cengkeh, dan jahe menghasilkan limbah padat. Limbah itu bisa kita manfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk energi alternatif berbasis biomassa," kata Anny, Rabu (8/7).
Riset ini melalui serangkaian tahapan panjang. Mulai dari pengeringan limbah jahe, lalu dilanjutkan dengan karbonisasi menjadi biochar. Setelah menjadi arang, bahan tersebut dicampur dengan perekat khusus, dicetak, dan diuji di laboratorium.
Parameter yang diuji meliputi kadar air, kadar abu, zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, hingga nilai kalor. "Hasil karakterisasi menunjukkan karbonisasi meningkatkan kandungan karbon dan membuat struktur biochar lebih berpori. Pemilihan jenis perekat yang tepat juga memengaruhi densitas dan kekuatan mekanik biobriket," jelas Anny.
BRIN menilai teknologi ini bisa menjawab dua persoalan sekaligus: mengurangi sampah industri dan menyediakan energi murah. Ke depan, riset ini diharapkan bisa diadopsi oleh sentra produksi minyak atsiri, industri herbal, hingga UMKM penghasil limbah jahe di berbagai daerah.
"Harapannya limbah tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang, tapi sebagai sumber daya terbarukan bernilai ekonomi tinggi. Ini juga bentuk penguatan ekonomi sirkular dan efisiensi sumber daya menuju sistem energi berkelanjutan di Indonesia," ujar Anny.
Dengan nilai kalor yang kompetitif, biobriket dari limbah jahe ini dinilai sangat potensial untuk menggantikan batu bara di sektor industri kecil dan menengah yang selama ini kesulitan mendapatkan bahan bakar murah dan ramah lingkungan.