SUMATERA BARAT — Produsen otomotif asal Tiongkok, Chery, tak mau ketinggalan dalam perebutan pasar mobil mikro di Jepang. Berbeda dengan pendekatan BYD yang langsung memperkenalkan model Racco, Chery memilih jalan kolaborasi dengan mendirikan merek baru bernama Emta. Akronim dari "easy, made to all", Emta digawangi oleh para profesional yang pernah bernaung di Honda, Mazda, hingga Nissan.
Aliansi Lima Perusahaan Raksasa
Proyek ini bukan sekadar eksperimen. Chery menggandeng empat mitra strategis untuk membangun fondasi bisnis yang kokoh. Jiangsu Yueda Automobile Group dari Tiongkok akan menjadi rekanan manufaktur, sementara raksasa ritel otomotif Jepang, Autobacs Seven, mengelola jaringan penjualan.
Untuk urusan dapur pacu, pasokan baterai dipercayakan kepada Gotion. Sementara Anest Iwata, spesialis teknologi pengecatan asal Jepang, memastikan kualitas tampilan kendaraan. Kursi CEO Emta diisi oleh He Xiaoqing, veteran otomotif dengan rekam jejak di Changan Ford, SAIC, dan Chery.
Emta #01: Desain Boxy dengan Pintu Geser
Model perdana yang diberi nama Emta #01 mengusung desain boxy minimalis khas mobil perkotaan. Fitur yang paling menonjol adalah pintu geser pada kedua sisi, memudahkan akses keluar-masuk penumpang di ruang sempit. Dimensinya sekitar 3,4 meter, identik dengan Chery QQ Ice Cream yang sudah dikenal di pasar global.
Meski spesifikasi teknis detail belum dirilis, Emta #01 dipastikan menggunakan platform milik Chery dengan baterai dari Gotion. Proses perakitan sepenuhnya dilakukan di Tiongkok sebelum dikirim ke Jepang.
Strategi Harga Agresif Lawan Kei Car Bensin
Manajemen Emta menargetkan harga jual yang setara dengan mobil Kei Car konvensional bermesin bensin. Langkah ini menjadi kunci agar kendaraan listrik mungil ini bisa bersaing di pasar Jepang yang sangat sensitif terhadap harga dan efisiensi. Dengan strategi ini, Emta berharap dapat mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan di segmen mobil mikro.