SUMATERA BARAT — Hajar Riatiani, Kepala SDN Purwoyoso 01, mengaku tetap menggelar MPLS bertema sirkus dengan sambutan meriah meski hanya menerima tiga siswa baru. "Berapapun muridnya tetap kita sambut dengan meriah. Setiap tahun kita ganti tema. Kali ini temanya sirkus, ada badutnya juga," ujarnya di Semarang, Senin (13/7).
Demografi Lansia dan Urbanisasi ke Pinggiran
Hajar menjelaskan, minimnya siswa baru bukan karena fasilitas sekolah yang buruk. Ia menyebut sekolah memiliki enam kelas lengkap, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang UKS, musala, halaman, dan smart TV bantuan pemerintah.
"Tapi sedikitnya siswa ini karena lingkungan demografi. Di sekitar sekolah ini sudah tidak ada perumahan yang produktif. Rata-rata penduduknya sudah lansia, tidak punya anak usia masuk SD," kata Hajar.
Ia menambahkan, banyak warga pindah ke daerah perbatasan seperti Kaliwungu, Kabupaten Kendal, yang memiliki banyak perumahan subsidi. Harga rumah di Kota Semarang dinilai sudah terlalu mahal. Sekolah di sekitar lokasi juga kekurangan siswa, sehingga tidak ada limpahan pendaftar.
Wali Kota Bantah Demografi, Sorot Kesenjangan Fasilitas
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng membantah fenomena ini semata-mata karena perubahan demografi. "Enggak lah. Pertumbuhan penduduk kita masih plus, bukan menuju nol. Memang ada wilayah tertentu yang kondisinya seperti itu, tapi secara umum jumlah anak usia SD masih ada," tegasnya di Gedung Gradhika Bhakti Praja, awal pekan ini.
Agustina malah menduga sejumlah SD negeri minim murid karena fasilitas yang kalah menarik dibandingkan SD swasta. Ia mengaku didukung data survei Dinas Pendidikan yang menunjukkan banyak orang tua lebih memilih sekolah swasta.
"Ternyata surveinya membuktikan bahwa orang tua itu nyaman kalau anak-anak sekolah di tempat yang memang fasilitasnya canggih. Sementara sebagian besar SD kita kalah canggih sama SD-SD swasta," jelasnya.
Pembangunan Terfokus di SMP, SD Negeri Tertinggal
Menurut Agustina, selama ini pembangunan dan peningkatan fasilitas pendidikan lebih banyak difokuskan ke jenjang SMP. Akibatnya, banyak SD negeri yang masih tertinggal dari sisi sarana dan prasarana.
"Makanya Kepala Dinas mengajukan supaya SD negeri dibuat sedemikian rupa supaya lebih bagus dan canggih seperti SD swasta. Karena ternyata selama ini titik pembangunannya ada di SMP. SMP-nya bagus-bagus, SD-nya memang masih ketinggalan," ucapnya.
Dinas Pendidikan pun mengusulkan peningkatan fasilitas di SD-SD negeri. Pada tahun ajaran sebelumnya, SDN Purwoyoso 01 menerima 11 murid baru dan bertambah satu di tengah tahun. Meski tahun ini hanya tiga, Hajar menegaskan pihaknya tetap semangat. "Kita tidak ngelokro, tidak kendor, pembukaan tetap semeriah mungkin, biar anak-anak semangat untuk kembali belajar," pungkasnya.