Pencarian

Rupiah Tembus Rp17.844 per Dolar AS, Kebutuhan Valas Musiman dan Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok

Senin, 01 Juni 2026 • 11:11:01 WIB
Rupiah Tembus Rp17.844 per Dolar AS, Kebutuhan Valas Musiman dan Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok
Rupiah melemah hingga Rp17.844 per dolar AS pada Senin pagi, terdampak ketegangan Timur Tengah dan kebutuhan valas musiman.

SUMATERA BARAT — Pergerakan rupiah pada Senin (1/6) pagi ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang kompak tertekan. Yen Jepang melemah 0,14 persen, baht Thailand turun 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0,71 persen. Mata uang negara maju seperti euro dan poundsterling juga tak kuasa melawan dolar AS yang kembali perkasa.

Dua Sumber Tekanan yang Menggerus Rupiah

Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi ada dua faktor utama yang membuat rupiah sulit bangkit. Pertama, ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan titik terang.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam pernyataan resmi, Jumat (29/5) lalu.

Kedua, faktor musiman yang datang dari dalam negeri. BI mencatat peningkatan kebutuhan valuta asing (valas) yang signifikan, terutama untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan. Arus masuk dolar AS yang terbatas membuat tekanan terhadap rupiah semakin berat.

Analis: Konsolidasi di Tengah Ketidakpastian Data Domestik

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan berkonsolidasi dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS. Pasar disebutnya masih wait and see menunggu dua data penting domestik yang akan dirilis besok, yaitu inflasi dan neraca perdagangan.

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan. Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," kata Lukman.

Penurunan harga minyak mentah global memang bisa menjadi angin segar bagi rupiah. Pasalnya, Indonesia masih menjadi importir minyak neto, sehingga biaya impor energi yang lebih rendah berpotensi memperbaiki defisit neraca perdagangan dan mengurangi tekanan terhadap kurs.

BI Siaga Penuh, Intervensi Dilakukan 24 Jam

Menghadapi tekanan ini, BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar. Lembaga tersebut mengaku tidak akan segan mengerahkan berbagai instrumen intervensi, baik melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.

Bagi pelaku bisnis yang memiliki exposure dalam dolar AS, fluktuasi ini menjadi sinyal untuk lebih agresif melakukan lindung nilai (hedging). Sementara bagi investor, pergerakan rupiah yang volatile biasanya berdampak langsung pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kurs, seperti properti, ritel, dan perusahaan dengan utang dolar besar.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks