PADANG — Bukan sekadar ceramah biasa, tausiyah Buya Gusrizal di Masjid Al Hakim, Senin pagi, menjadi pengingat keras bagi para pemimpin dan pendidik. Di hadapan jemaah yang bertahan di tengah badai, ulama yang kini menjabat Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi MUI Pusat periode 2025-2030 ini menggugat pola pendidikan modern yang dinilainya mulai kehilangan orientasi ketuhanan.
“Ulama seharusnya hadir di tengah umat,” tegas Buya Gusrizal dalam kajian tersebut. Ia menyayangkan adanya pergeseran peran, di mana tugas tarbiyah (pendidikan) ulama saat ini berbeda jauh dengan pola kepemimpinan ulama terdahulu yang lebih dekat dan membimbing langsung masyarakat. Menurutnya, inilah yang harus diubah.
Pendidikan Alami ala Rasulullah vs Formalitas Modern
Buya mengutip hadis riwayat Imam Tirmidzi, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi” (Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban). Ia menegaskan, hadis ini bukan sekadar status sosial, melainkan konsekuensi besar dalam pernikahan dan kepemimpinan keluarga.
Beliau membandingkan pendidikan yang dijalani Rasulullah SAW yang bersifat alami dan berbasis keteladanan, bukan formalitas belaka. “Pendidikan hari ini harus berdiri di atas konsep tauhid. Orientasi yang dibangun jangan materialistik,” pesannya di hadapan jemaah yang memadati masjid.
Wasiat untuk Abdullah bin Abbas: Jagalah Allah
Mengambil contoh dari peristiwa ketika Rasulullah membonceng Abdullah bin Abbas yang masih belia, Buya mengingatkan wasiat agung: “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” Konsep ‘ihfadhillaah’ (memelihara Allah) ini, menurutnya, mengajarkan bahwa pendidikan karakter dan tauhid harus dimulai sejak dini.
Buya juga mengupas makna syukur dari Surat Luqman ayat 12. Syukur memiliki dua dimensi: mengakui nikmat tanpa pengingkaran dan memuji Allah dengan mempergunakan pemberian-Nya sesuai tujuan penciptaan. “Lisan diciptakan untuk memuji Allah, mata diciptakan untuk melihat dan menambah keimanan,” ujarnya.
Pesan Leluhur Minang: Sepahit-pahit Hidup, Jangan Tinggalkan Sholat
Dalam tausiyahnya, Buya Gusrizal mengaitkan nilai tauhid dengan tradisi merantau orang Minang. Ia mengingatkan pesan para leluhur yang diwariskan turun-temurun: “Sepahit-pahit hidup, jangan pernah tinggalkan sholat.”
“Kita bukan kekurangan orang pintar, tapi kita kekurangan orang-orang yang berkomitmen pada nilai-nilai keislaman dan tauhid,” tandas Buya. Prinsip hidup, kata dia, harus tegak di atas iman, sebagaimana 25 nabi wajib diimani karena disebutkan dalam Al-Qur’an.
Tausiyah yang menggugah ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya para pemimpin dan pendidik, untuk kembali mengokohkan fondasi tauhid. Di tengah badai hujan yang mengguyur, semangat jemaah justru membuktikan dahaga mereka akan ilmu dan bimbingan ulama yang istiqamah.